Forum Budaya Mataram Berkomunikasi lewat Medsos Gunakan Bahasa Jawa Bentuk Jaga Budaya

Forum Budaya Mataram temu darat Selasa 18 Juni 2019. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-SOLO-Berbagai cara dilakukan untuk melestarikan budaya daerah, tidak hanya dengan cara menggelar acara-acara besar. Diantaranya berkomunikasi lewat media sosial menggunakan bahasa jawa menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya.

Hal itu dilakukan oleh Forum Budaya Mataram (FBM) Solo. Berawal dari diskusi menggunakan Bahasa Jawa, mereka pun mengadakan pertemuan bersama, dan mendiskusikan berbagai persoalan budaya di Solo Raya hingga Jawa Tengah.

“Awalnya dari medsos lalu ketemu dan diskusi bareng. Ternyata visi dan misi kita sama, yaitu menilai adanya pergeseran nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa yang halus dan punya nilai filosofis tinggi misalnya, kini mulai ditinggalkan masyarakat,” kata salah satu penggagas FBM Agung Hardiyanto, saat ditemui di Solo, Selasa (18/6/2019).

Menurut Agung, budaya Jawa Tengah merupakan tradisi turun menurun yang penuh nilai moral dan memiliki nilai luhur. Mayoritas menilai tradisi itu sebagai nilai sakral yang tidak boleh ditinggalkan. Namun ada pula yang menganggapnya sebuah artefak kuno yang sepantasnya dimuseumkan.

“Mulai dari bahasa sampai tradisi, sedikit demi sedikit ditinggalkan, ya karena orang tua lebih senang memasukkan anaknya ke dalam lembaga pendidikan bahasa asing daripada bahasa Jawa. Bahasa Jawa dianggap kuno,“ katanya.

Dia juga mengakui, memang tradisi jawa ini masih banyak dilestarikan. Masyarakat masih melakukan wetonan, nyadran, gugur gunung, dan masih banyak lagi. Hanya saja, terkesan telah kehilangan makna filosofis yang dulu diajarkan. Sebagian besar masyarakat memang masih melakukan wetonan dan nyadran, namun mereka telah menganggapnya sebagai kebiasaan semata.

Ketika diminta menjelaskan asal usul tradisi itu, mereka hanya mengatakan bahwa wetonan adalah bentuk rasa syukur telah diberi panjang umur. Ketika nyadran pun ia menganggapnya sebagai sarana memohonkan ampun orang yang telah mati.

“Mungkin karena saat ini sudah tidak bisa kita lihat batasan antara kepercayaan dan tradisi, manusia mulai meninggalkan tradisi yang dianggap kuno dan sekedar mematuhi norma-norma dari lingkungannya saja tanpa memahami filosofinya.”

Untuk itu dia bersama rekan-rekannya, membuat komunitas yang bertujuan melestarikan budaya dan tradisi
“Kita mulai pertengahan Desember 2018. Harapan kami bisa menjadikan wadah atau forum diskusi dari setiap paguyuban atau komunitas Jawa Tengah yang ada,” ujarnya.

Hingga kini, lanjutnya, Forum Budaya Mataram masih tetap gencar mengajak masyarakat Jawa Tengah menggali budaya Jawa yang kaya falsafah luhur dan bernilai tinggi.

“Masih banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil dari warisan budaya nenek moyang kita. Meskipun banyak yang telah mengabaikannya dan tidak lagi peduli. Kami tetap bangga menjadi suatu bagian dari Nusantara dengan berjuta tradisi yang bernilai tinggi,” pungkasnya.