Sarasehan BHS gagas Laku panjang: Keberlanjutan Ragam Hias dari Candi ke Nisan

Ketua BHS Yosep Kustono (Istimewa /Fokusjateng.com)

Fokusjateng.com – BOYOLALI,- Kedatangan Islam ke Nusantara tidak berarti menghilangkan kebudayaan Hindu-Buddha. Bahkan membentuk akulturasi budaya yang baru dan terlihat dari sisi bangunan. Banyak, seni arsitektur Islam yang menunjukan akulturasi dengan kebudayaan masa Hindu-Buddha salah satunya pada kijing ( nisan) makam Islam.

Hal ini terungkap dalam sarasehan budaya, Boyolali Heritage Society (BHS) yang membahas korelasi historis antara peradaban candi Masa Klasik Hindu-Buddha, dengan tradisi nisan kijing Masa Islam Mataram.

“Secara historis, para akademisi menyebutkan adanya Candi Persembahan atau Candi Pendharmaan. Candi-candi berukuran kecil tersebut sejatinya dibuat sebagai penanda makam untuk menghormati tokoh-tokoh besar, seperti para resi,” kata Ketua BHS Yosep Kustono dalam rilisnya. Sabtu 6 Juni 2026.

Di kawasan lereng Merapi Merbabu misalnya, tempat pemakaman biasanya terdapat di atas bukit yang dibuat berundak-undak. Hal itu mengingatkan pada bangunan punden berundak pada zaman Hindu. Bangunan makam yang berupa jirat dan cungkup, kemudian dinding cungkupnya diberi hiasan arsitektur yang memperlihatkan pengaruh Hindu – Buddha.

Yosep menjelaskan seiring peralihan zaman dari Masa Klasik ke Masa Islam Mataram, tradisi itu beradaptasi. Menurutnya candi tetap jadi penanda makam tokoh, tapi bentuknya mengecil dan bergaya baru. Pada periode inilah penggunaan nisan mulai marak sebagai turunan konsep candi pendharmaan.

“Melalui diskusi ini, BHS ingin mengedukasi masyarakat luas agar pemahaman sejarah kita tidak terputus,” katanya.

Dalam keterangannya, budayawan Boyolali itu juga memaparkan detail simbolisme pada nisan batu kijing. Nisan kuno merepresentasikan periode waktu, bentuk jirat, dan ketokohan orang yang dimakamkan. Meski tidak mencantumkan nama eksplisit, simbol pahatan jadi penanda status sosial.

Disebutkan, ada tiga simbol yang sering ditemukan. Yakni simbol Bulan Bulat Purnamasidi, Simbol Tumbakan Tombak dengan Bulan Sabit, serta Simbol Matahari.

Menurutnya, simbol-simbol itu menandakan almarhum adalah tokoh penting pada masanya, baik tokoh ilmu pengetahuan, spiritual, maupun pengobatan.

“Nisan kuno Boyolali dikategorikan nisan batu karena memakai batu andesit dan batu putih batu kapur. Batu kapur khas penanda makam Mataram Islam banyak tersebar seperti di Bayat.”

Akan tetapi, Boyolali tidak punya sumber batu kapur tapi nisan batu putih banyak ditemukan di sana. Menurut Yosep, hal ini merupakan tanda hubungan keguruan. Nisan batu putih periode sama juga tersebar di Sragen, Purwodadi, hingga Yogyakarta, menandakan mereka satu lingkaran komunitas budaya.

Diskusi didukung Komunitas Kandang Kebo dari Jogja-Klaten, komunitas seni budaya, ketoprak, seni rupa, hingga komunitas lokal. Pesertanya juga datang dari Boyolali, Yogyakarta, Solo, hingga Salatiga.  (Ist/**)