Menepis Kotoran Jiwa di Keheningan Kahyangan Dlepih

Foto : Pasiraman pertemuan dua arus air gerojogan

FOKUSJJATENG.COM, WONOGIRI – Jauh dari bising knalpot kota dan kepungan gedung bertingkat, sebuah lembah di ujung selatan Wonogiri menyimpan rahasia kuno yang dijaga ketat oleh alam. Masyarakat mengenalnya sebagai Kahyangan Dlepih. Bukan sekadar tempat wisata alam biasa, ceruk tersembunyi di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo ini adalah perpaduan magis antara gemercik air jernih, tebing batu raksasa, dan sanyatane (sejatinya) jejak spiritualitas Jawa yang tak lekang oleh zaman.

Petualangan Menembus Tirai Hijau

Perjalanan menuju Kahyangan adalah sebuah ritus tersendiri. Jalanan berliku membelah perbukitan hijau seolah menjadi ucapan selamat datang yang menantang. Begitu menapakkan kaki di area lokasi, udara dingin langsung menyergap kulit, membawa aroma tanah basah dan daun-daun hutan yang khas.
Suara gemericik Air Terjun Kahyangan langsung menyambut telinga, berpadu harmonis dengan kicauan burung liar. Di sini, mata akan dimanjakan oleh tebing-tebing batu megalitikum yang eksotis. Aliran sungainya begitu jernih, mengalir di antara sela-sela batu purba, menggoda siapa saja untuk sekadar membasuh muka atau merendam kaki yang lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
“Kahyangan itu artinya tempat para dewa. Bagi kami, tempat ini bukan cuma pemandangan indah, tapi tempat di mana alam dan manusia bisa benar-benar ‘berbicara’ dalam keheningan, nyawiji (menyatu) dengan alam,” ujar salah satu sesepuh lokal yang ditemui di sekitar lokasi.

Jejak Langkah Sang Penoreh Sejarah

Namun, daya tarik utama Kahyangan Dlepih justru terletak pada balutan mitos dan sejarahnya. Tempat ini diyakini kuat sebagai lokasi pertapaan Danang Sutawijaya, yang kelak bergelar Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Di sinilah, berabad-abad lalu, Sang Pangeran memilih mengasingkan diri dari gemerlapnya duniawi demi mencari petunjuk spiritual, melakoni *laku prihatin* demi tegaknya bumi Mataram. Jejak spiritualitas itu masih terasa kuat berkat beberapa titik sakral yang dirawat dengan baik hingga kini.
Perjalanan mistis di sini biasanya dimulai di Selo Bethek, sebuah batu besar unik yang menjadi saksi bisu awal mula laku prihatin Sang Pangeran. Di batu inilah, konon Danang Sutawijaya menghabiskan waktu awal untuk bersemedi dalam keheningan, mengasah ketajaman batinnya, mati raga mengendalikan hawa nafsu.
Tidak jauh dari sana, terdapat Sela Payung, tebing batu yang menjorok ke depan menyerupai payung alami yang dulu melindunginya dari sengatan matahari dan derasnya air hujan selama bertapa.

Filosofi Pesiraman: Simbol Kekotoran Jiwa dan Kungkum

Beranjak ke bagian atas, peziarah akan menjumpai Kedung Pesiraman. Sebuah pemandian alami yang hingga kini dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati menyucikan diri lahir dan batin sebelum memanjatkan doa-doa sakral ke hadirat Sang Khalik.
Bagi para pencari kedalaman batin, titik Pesiraman di Kahyangan Dlepih bukan sekadar kolam batu berisi air pegunungan yang dingin. Di balik beningnya air yang mengalir, ada sanepan—simbolisme mendalam tentang eksistensi manusia di hadapan Sang Pencipta.
Menurut pelaku spiritual setempat, Mbah Totok Landung Suara, Pesiraman Kahyangan Dlepih adalah simbol nyata bahwa manusia—atau makhluk apa pun—tidak akan pernah luput dari dosa, salah, dan kekotoran jiwa.
“Sebersih apa pun makhluk tersebut, ia pasti memiliki noda,” ungkap Mbah Totok Landung Suara dengan nada laras.

Dalam pandangan kejawen, ritual mandi kungkum (berendam) yang kerap dijalani di Pesiraman ini sejatinya merupakan sarana untuk reresik, yakni membersihkan atau setidaknya mengurangi kekotoran yang melekat erat di dalam jiwa, ngeli (menghanyutkan) segenap pamrih duniawi. Air menjadi medium fisik untuk meluruhkan energi negatif, namun kesadaran batiniah adalah penggerak utamanya.

Watu Pasholatan: Puncak Kepasrahan dan Dzikir Sang Pangeran

Keterkaitan spiritualitas Jawa dan nilai keislaman di tempat ini kian kental saat melangkah tepat di atas Kedung Pesiraman. Di sana, terdapat sebuah artefak berupa bangunan atau landasan batu datar purba yang dikelilingi pagar pembatas. Masyarakat mengenalnya sebagai Watu Pasholatan.
Konon kabarnya, batu datar inilah yang menjadi tempat beralas alam bagi Danang Sutawijaya untuk menunaikan ibadah sholat, bertafakur, dan melantunkan dzikir-dzikir agung di tengah sunyinya belantara Tirtomoyo. Keberadaan artefak pasholatan ini menjadi penegas dari filosofi yang disampaikan oleh Mbah Totok Landung Suara.
Mbah Totok mengingatkan bahwa laku penyucian diri lewat mandi kungkum di Pesiraman bawah, harus bermuara pada pasholatan di atas. Artinya, pembersihan jiwa dari noda dan dosa harus didasari oleh kesadaran kosmis yang mutlak: bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan yang daif.
Segala urusan spiritual di Kahyangan Dlepih ini pada akhirnya wajib bersandar, sumeleh, dan bersujud kepada Gusti Allah ingkang Murbeng Dumadi* (Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Menitahkan) melalui jalur sholat dan dzikir. Antara membasuh diri di pesiraman dan bersujud di pasholatan adalah satu kesatuan *laku pasrah* yang total, sebuah pengejawantahan dari konsep manunggaling kawula gusti secara syariat.

Harmoni Sejarah dan Modernitas

Hingga hari ini, setiap malam Selasa Kliwon atau Jumat Legi pada bulan Suro (penanggalan Jawa), Kahyangan Dlepih bertransformasi menjadi pusat spiritual. Ratusan peziarah datang dari berbagai daerah, membawa harapan dan doa, larut dalam ritual meditasi di bawah temaram rembulan, mencoba menyelami kembali *laku batin* yang pernah dijalani Panembahan Senopati.

Saat matahari mulai tenggelam di balik bukit Tirtomoyo, kabut tipis perlahan turun menyelimuti Kahyangan Dlepih. Meninggalkan tempat ini membawa satu refleksi mendalam dari atas Watu Pasholatan: bahwa di sudut sunyi Wonogiri, kedamaian sejati ternyata bukanlah mitos. Ia nyata, mengalir bersama air Pesiraman, membubung bersama untaian dzikir, dan menetap erat di sela-sela batu Kahyangan, mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspada. ( bre / s )