Fokus Jateng-BOYOLALI, –Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) resmi menggandeng Tim Riset Program Doktoral (S3) Universitas Tsukuba, Jepang, dengan fokus memperkuat strategi penyelamatan pohon asli Indonesia yang kian langka, yaitu Saninten (Castanopsis argentea).
Langkah strategis ini diawali melalui Sosialisasi Hasil Penelitian Saninten (Castanopsis argentea) dan Tungurut (Castanopsis tungurrut) di Pulau Jawa yang digelar di Dusun Guolelo, Desa Ngagrong, wilayah kerja Resor Ampel, Kabupaten Boyolali.
Kepala BTNGMb Anggit Haryoso menjelaskan Saninten bukan sekadar komponen pengisi ekosistem hutan pegunungan bawah. Flora asli Jawa dan Sumatera ini kerap dijuluki sebagai ‘Kastanye Jawa’ karena menghasilkan
biji gurih menyerupai kacang kastanye (chestnut) yang berpotensi tinggi sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
“Secara ekologis, pohon adaptif ini memegang peran krusial bagi kehidupan di lereng gunung,” jelas Anggit dalam rilisnya, Selasa 23 Juni 2026.
Dijelaskan pohon ini bisa disebut sebagai benteng Alami, mengingat memiliki struktur akar tunggang yang sangat kokoh untuk mengikat tanah, menahan erosi, dan mengurangi risiko longsor.
Spons Air dan Rumah Satwa, tajuknya yang lebat efektif menahan dan meresapkan air hujan guna menjaga stabilitas pasokan air tanah, sekaligus menjadi rumah serta sumber pakan bagi berbagai satwa liar.
“Namun, keberadaannya kini di ambang kritis. Berdasarkan Red List IUCN, Saninten masuk dalam kategori Endangered (EN) atau terancam punah,” katanya.
Di Indonesia sendiri, pohon ini statusnya dilindungi berdasarkan PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018..
Merbabu: Habitat Terbaik di Jawa yang Tersisa.
Disebutkan kegiatan tersebut melibatkan sekitar 35 peserta dari berbagai unsur, mulai dari pengelola kawasan TN Gunung Merbabu, Pemerintah Desa Ngagrong, serta beberapa kelompok masyarakat mitra konservasi Saninten dari Dusun Ngagrong, Guolelo, Candilaras, Baturejo, Bodrosari, Ganduman, Timboa, serta Kelompok Pemanfaat Air (KPA) Lumintu dan Dharma Tirta. ( yull/**)
