FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang syahdu memecah keheningan malam di Masjid Agung Madaniyah, Kabupaten Karanganyar, Selasa (26/5/2026) malam. Menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama ratusan masyarakat larut dalam suasana religius yang penuh dengan kehangatan dan kebersamaan.
Malam takbiran kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Di balik kekhusyukan ibadah yang dihadiri oleh Wakil Bupati Karanganyar H. Adhe Eliana, S.E., jajaran Forkopimda, kepala OPD, serta tokoh agama, ada pesan mendalam yang dibawa: menghidupkan kembali makna kurban di tengah realitas kehidupan modern.
Kurban di Era Modern: Bukan Hanya Soal Hewan, Tapi Kepedulian
Dalam kehidupan masa kini yang serba cepat dan individualistis, esensi Iduladha seringkali membutuhkan refleksi yang lebih dalam. Menjawab tantangan zaman tersebut, Wakil Bupati Karanganyar mengajak masyarakat untuk melihat Iduladha dari kacamata yang lebih luas—sebagai momentum penguat solidaritas sosial.
“Nilai keikhlasan, pengorbanan, dan gotong royong dalam Iduladha harus terus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk membangun Karanganyar yang lebih maju dan sejahtera,” ujar H. Adhe Eliana dalam sambutannya.
Di era kekinian, berkurban tidak lagi diukur sebatas pada prosesi penyembelihan hewan ternak. Makna kurban telah bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap sifat egois manusia. Menyerahkan sebagian harta untuk berkurban adalah wujud nyata dari meruntuhkan sekat-sekat sosial dan ego pribadi demi kesejahteraan bersama.
Merajut Kebersamaan, Mengetuk Kepekaan
Melalui momentum Iduladha 1447 H ini, Pemerintah Kabupaten Karanganyar berharap ibadah kurban dapat menjadi jembatan pengikat silaturahmi antarwarga. Tradisi saling berbagi daging kurban menjadi pengingat bahwa di sekitar kita, masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan.
Semangat berbagi inilah yang diharapkan tidak pudar begitu saja setelah hari tasyrik usai, melainkan menjelma menjadi aksi gotong royong yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari demi membawa Karanganyar ke arah yang lebih maju.
Suasana malam itu pun ditutup dengan optimisme. Di bawah kubah Masjid Agung Madaniyah yang megah, masyarakat Karanganyar tidak hanya menyambut hari raya dengan sukacita, tetapi juga dengan komitmen baru: menjadi pribadi yang lebih peka, peduli, dan siap berbagi untuk sesama. ( bre )
