fokusjateng.com – SURAKARTA,- INDONESIA dinilai masih memiliki modal penting untuk membangun kembali daya saing industri tekstil, yakni sumber daya alam dan sumber daya manusia yang disebut tidak kalah dengan negara lain. Namun, modal tersebut dinilai belum dioptimalkan untuk mengejar ketertinggalan teknologi industri.
Pakar teknologi tekstil Felixtian Teknowijoyo mengatakan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebenarnya memiliki daya saing tinggi di tingkat global.
“Saya percaya SDM Indonesia ini tidak bisa diremehkan. Sudah banyak lulusan Indonesia yang dipercaya bahkan di luar negeri,” ujar Felix saat menjadi pembicara dalam kuliah umum “Kebangkitan Tekstil Indonesia” di Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil (AK Tekstil) Surakarta, Jawa Tengah pada, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Felix, potensi tersebut perlu diarahkan pada penguatan riset, inovasi, dan penguasaan teknologi agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor bahan baku tekstil. Alumnus universitas sains terapan Hochschule Niederrhein Jerman itu menilai ketergantungan terhadap impor masih menjadi salah satu hambatan utama industri tekstil nasional. Sejumlah bahan baku seperti benang dan serat tertentu masih sulit diproduksi secara lokal sesuai standar industri global.
“Standar tertentu masih sulit dipenuhi dari produk dalam negeri, sehingga industri masih bergantung pada impor,” kata dia.
Felix menilai dengan kombinasi sumber daya alam yang besar dan kualitas SDM yang kompetitif, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk membangun industri tekstil yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi, termasuk melalui kerja sama internasional.
Ia membuka peluang kolaborasi dengan institusi pendidikan di Jerman untuk memperkuat transfer teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja tekstil Indonesia.
Di sisi lain, perwakilan industri tekstil dari PT Sekar Lima Pratama, Lilik Setiawan menilai fenomena masuknya investor asing ke Indonesia dalam skala besar seharusnya menjadi sinyal bahwa sektor tekstil Indonesia masih sangat menarik.
“Kalau kita melihat tekstil kita memang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Banyak sekali kesulitan karena faktor internal maupun eksternal,” ungkap Lilik.
Di tengah tekanan yang dihadapi Industri tekstil lokal tersebut, menurut Lilik, perusahaan-perusahaan tekstil besar dari luar negeri justru berdatangan dan menanam investasi dalam skala besar di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.
“Kalau banyak investor asing masuk ke Indonesia berarti ada sesuatu yang menarik. Pertanyaannya, kenapa pelaku industri tekstil nasional justru tampak lesu? Apakah karena insentif yang diterima investor asing berbeda dengan yang diterima pelaku lokal, sehingga membuat playing field-nya tidak setara,” kata Lilik.
Ia menekankan bahwa industri tekstil tidak bisa lagi dipandang secara sederhana sebagai produk dua dimensi berupa kain semata, melainkan sektor yang kompleks dengan nilai tambah tinggi. Karena itu, menurutnya, peluang pengembangan industri ini sebenarnya masih sangat besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
“Tekstil itu tidak bisa dipandang dua dimensi. Ini bisa dibedah lebih dalam, dan peluangnya luar biasa,” ujarnya.
Lilik juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam kerangka hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, dan pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, tanpa sinergi tersebut, persoalan daya saing industri nasional akan sulit diatasi.
Ia berharap momentum kebangkitan nasional dapat menjadi titik refleksi untuk memperkuat kembali industri tekstil dalam negeri, sekaligus memastikan kebijakan yang ada benar-benar menciptakan persaingan yang adil.
“Kalau investor asing masuk, itu artinya ada peluang besar. Tapi kita harus pastikan industri nasional tidak tertinggal karena ketidakseimbangan kebijakan,” tuturnya.
Lilik mengakui masuknya investasi asing memberikan dampak positif berupa pembukaan lapangan kerja baru. Namun, di sisi lain, muncul tantangan besar terkait mobilitas tenaga kerja dan kesiapan sumber daya manusia.
Ia mencontohkan kondisi di wilayah Solo Raya, di mana sejumlah perusahaan tekstil mengalami penutupan dan PHK, sementara kawasan industri baru di Batang dan Kendal justru berkembang pesat. Namun, menurutnya perpindahan tenaga kerja dari wilayah terdampak ke kawasan industri baru tidak semudah yang dibayangkan.
“Manusia itu makhluk sosial, punya keluarga. Tidak semudah itu pindah kerja dari satu daerah ke daerah lain,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti kesenjangan besar antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja terampil. Salah satu contoh adalah kebutuhan industri tekstil asal Tiongkok yang mencapai 5.000 orang, sementara lulusan AK Tekstil Surakarta hanya ratusan per tahun.
“Perusahaan butuh 5.000 orang, sementara lulusan AK Tekstil saat ini rata-rata baru 250 orang per tahun. Ini jauh sekali,” katanya.
Dari sisi teknologi, Lilik menilai terdapat kesenjangan cukup jauh antara industri tekstil nasional dan negara maju, salah satunya Jerman. Ia menyebut perbedaan kesiapan menuju industri berbasis teknologi tinggi masih cukup signifikan.
Hal ini, menurutnya, membuat pelaku industri asing memiliki keunggulan dalam efisiensi dan inovasi, sehingga memperkuat posisi mereka di pasar Indonesia.
Selain faktor industri, Lilik juga menyoroti dampak isu geopolitik global yang memengaruhi daya beli masyarakat, baik domestik maupun internasional. Menurutnya, banyak keputusan pembelian tertunda akibat ketidakpastian ekonomi global.
“Banyak pembelian yang tertunda, baik di dalam negeri maupun luar negeri, karena prioritas belanja bergeser ke kebutuhan pokok seperti pangan dan energi,” ujarnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada sektor tekstil yang meskipun merupakan kebutuhan primer, tidak selalu menjadi prioritas utama dalam situasi ekonomi yang tidak stabil.
Lebih jauh, Lilik mendorong adanya evaluasi terhadap skema belanja negara (APBN), khususnya terkait komponen belanja pemerintah yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut penasehat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah itu, jika salah satu komponen utama pertumbuhan ekonomi melemah, maka beban akan berpindah ke sektor lain seperti konsumsi rumah tangga dan ekspor. Ia menilai diperlukan keberanian untuk mengevaluasi ulang kebijakan fiskal agar tetap mendukung pertumbuhan industri nasional.
Lilik menekankan pentingnya kesetaraan kebijakan antara pelaku industri lokal dan investor asing, kepastian hukum, serta kolaborasi lintas sektor dalam kerangka hexa helix yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kalau tidak ada kesetaraan dan kepastian hukum, industri nasional akan semakin tertinggal,” ujarnya. (thia/**)
