Opini : Menyembelih Ego Politisi: Ketika Bully Konstituen Menemukan Jawabannya di Altar Qurban

FOTO : gambar siluet Jack Usil

FOKUSJATENG.COM, OPINI, KARANGANYAR – Aroma kepulan asap sate dan gulai kambing kembali menusuk hidung warga di hampir setiap sudut gang. Gema takbir bersahut-sahutan, menandai tibanya Hari Raya Idul Adha. Di sela-sela riuhnya warga yang mengantre kupon daging, di sebuah warung kopi pojok kota, pengamat politik senior yang terkenal dengan celotehan satir dan kritisnya, Jack Usil, sedang asyik menyeruput kopi hitamnya.

Bagi Jack, momentum qurban kali ini punya magnet tersendiri jika ditarik ke panggung politik praktis. Terutama, bagi para politisi yang belakangan ini “babak belur” di-perundung (bully) oleh masyarakat lantaran rapor janji kampanye mereka yang masih merah alias belum sempurna dipenuhi.

“Banyak politisi kita yang kalau Idul Adha datang, langsung sibuk cari sapi paling montok, bobot satu ton, lalu dipasang foto wajah senyum tiga jari di spanduknya,” buka Jack Usil sambil terkekeh khas. “Mereka pikir, dengan menyumbang sapi raksasa, bully-an netizen dan konstituen karena janji kampanye yang mangkrak bisa langsung lunas. Ya gak bisa begitu, dong!”

Jack menilai, perundungan digital maupun kritik langsung dari masyarakat bawah bukanlah sekadar kebencian buta. Itu adalah bentuk “metesahan”—sebuah istilah serapan lokal yang menggambarkan kombinasi antara kegelisahan, kekecewaan, dan keluh kesah masyarakat yang merasa disumbat suaranya.

Ritual vs Spiritual: Waktunya Menambal Janji

Menurut analisis Jack, ada salah kaprah musiman yang terjadi di kalangan elite politik kita. Qurban sering kali direduksi menjadi sekadar etalase politik atau ajang investasi elektoral jangka pendek. Padahal, esensi terdalam dari Idul Adha adalah Dzatul Tadhhiyah—semangat pengorbanan yang radikal.

“Nabi Ibrahim dulu diperintah mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu anaknya. Nah, politisi kita sekarang diminta mengorbankan apa? Cuma diminta korbankan kenyamanan, ego kelompok, dan rasa malas mereka untuk menuntaskan janji kampanye. Masa begitu saja berat?” cecar Jack sambil mengetuk-ngetuk meja kopi.

Bagi politisi yang sering di-bully karena belum amanah, momentum qurban seharusnya menjadi alarm keras atau pelecut spiritual. Jack membaginya ke dalam tiga refleksi kritis:

  • Menyembelih “Nafsu Binatang” Politik: Kritik tajam masyarakat adalah cermin bahwa politisi harus menyembelih sifat-sifat egois, ketamakan kekuasaan, dan watak ‘habis manis sepah dibuang’ yang kerap muncul pasca-pemilu.

  • Mengubah Status dari ‘Korban’ Menjadi ‘Pelayan’: Banyak politisi yang baperan (bawa perasaan) ketika dikritik, merasa menjadi korban ketidakadilan opini publik. Momen qurban mengajarkan untuk membuang rasa tersinggung itu dan mengubahnya menjadi energi pengabdian.

  • Dari Retorika Menuju Realita: Janji kampanye adalah retorika, sementara eksekusi program adalah realita. Sebagaimana qurban butuh tindakan nyata menyembelih, kepercayaan rakyat juga hanya bisa dirajut kembali lewat bukti konkret.

“Konstituen itu tidak butuh spanduk wajah politisi di samping kambing. Mereka butuh kehadiran politisi untuk memotong rantai kesulitan hidup mereka.”

Menyambung “Metesahan” yang Terputus

Di akhir obrolan, Jack Usil menegaskan bahwa Idul Adha adalah momen terbaik bagi politisi untuk melakukan re-koneksi dengan akar rumput. Distribusi daging qurban secara filosofis adalah simbol pemerataan keadilan sosial, agar tidak ada jarak antara yang kaya dan yang miskin, antara penguasa dan rakyatnya.

“Jangan cuma mendistribusikan dagingnya saja, tapi distribusikan juga komitmen politiknya. Datangi lagi konstituen yang kemarin meluapkan kegelisahannya (metesahan). Dengar keluhan mereka tanpa sekat, tanpa ajudan yang mukanya ditekuk,” tambah Jack.

Perayaan qurban tahun ini, di mata Jack Usil, sejatinya adalah panggung pembuktian bagi para politisi yang tengah berada di titik nadir popularitasnya. Kebisingan rundungan di media sosial tidak akan bisa diredam dengan rilis klarifikasi atau pembelaan diri yang diplomatis.

Bully itu hanya akan senyap dengan sendirinya ketika sang politisi mulai melangkah turun, menyembelih gengsinya, dan mulai mencicil kewajibannya sebagai penyambung lidah rakyat sejati. Jika tidak, hewan qurban yang mereka potong hari ini mungkin hanya akan menjadi saksi bisu atas janji-janji yang ikut tersembelih dan mati di tengah jalan. ( bre )