FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Di balik riuh rendah wisatawan yang memadati Grojogan Sewu, tersimpan sebuah sudut sunyi yang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual banyak orang. Namanya Tempuran Si Kerincing. Secara fisik, ia hanyalah titik pertemuan dua aliran sungai yang menyatu menjadi satu jalur. Namun bagi masyarakat sekitar dan para pencari ketenangan batin, Tempuran Si Kerincing adalah tempat di mana alam dan mistisme bertemu dalam harmoni yang dingin.
Suara “Krincing” di Lereng Lawu
Nama “Si Kerincing” tidak muncul begitu saja. Konon, sebutan itu lahir dari suara air yang menghantam bebatuan sungai, menciptakan bunyi gemericik yang nyaring dan berirama seperti suara lonceng kecil atau krincing.
Sebagai sebuah tempuran, lokasi ini dianggap memiliki energi yang unik. Dalam filosofi Jawa, pertemuan dua aliran air melambangkan penyatuan kekuatan alam yang dapat dimanfaatkan untuk menyucikan diri. Tak heran jika hingga saat ini, lokasi ini tetap menjadi rujukan utama bagi mereka yang ingin melakukan “laku prihatin”.
Mitos Wahyu Kepemimpinan Bung Karno
Salah satu kisah paling memikat yang menyelimuti Si Kerincing adalah keterkaitannya dengan Sang Proklamator, Bung Karno. Sebagian masyarakat meyakini bahwa di sinilah salah satu titik tempat Bung Karno melakukan tapa brata di masa lalu.
Konon, saat melakukan laku spiritual di Si Kerincing, Bung Karno menerima “wahyu” atau isyarat spiritual untuk memimpin Republik Indonesia. Meski kisah ini telah turun-temurun diceritakan, kebenarannya secara historis memang masih memerlukan pembuktian dan riset yang lebih mendalam. Namun bagi warga lokal, cerita ini menjadi bumbu sejarah yang menambah kewibawaan kawasan lereng Gunung Lawu tersebut.
Ritual Kungkum 7 Malam Jumat
Hingga hari ini, Tempuran Si Kerincing tidak pernah benar-benar sepi dari peziarah spiritual. Salah satu ritual yang paling sering dijalankan adalah Kungkum 7 Malam Jumat.
Para pelaku ritual biasanya berendam di air yang sangat dingin tepat di titik pertemuan arus. Ritual ini dipercaya sebagai sarana untuk mempercepat terkabulnya hajat—mulai dari persoalan rezeki, ketentraman keluarga, hingga karier. Dengan berendam selama tujuh malam Jumat secara berturut-turut, seseorang diharapkan bisa mencapai titik ikhlas dan bersih diri sehingga permohonannya lebih mudah diridhoi oleh Sang Pencipta.
Antara Tradisi dan Pelestarian Alam
Meski kental dengan nuansa mistis, Tempuran Si Kerincing sebenarnya adalah pengingat betapa pentingnya menjaga sumber mata air. Masyarakat yang datang untuk ritual secara tidak langsung ikut menjaga kesucian dan kebersihan area ini dari sampah atau pengrusakan.
Bagi Anda yang tertarik berkunjung, entah untuk sekadar menikmati keasrian alam atau ingin merasakan dinginnya air yang konon pernah menjadi saksi bisu laku prihatin tokoh-tokoh besar, Tempuran Si Kerincing menawarkan suasana yang tak ditemukan di tempat lain. Sebuah perjalanan yang mengajak kita menoleh sejenak pada warisan luhur dan kekayaan spiritual di lereng Lawu. ( bre suroto )
