FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Deru mesin giling mungkin tak lagi sepekak dulu, namun aura kemegahan Pabrik Gula (PG) Tasikmadu masih terasa hingga ke sudut-sudut rel tua yang berkarat. Di balik dinding kokoh peninggalan Mangkunegara IV ini, tersimpan sebuah asa besar: mengulang kembali masa kejayaan yang pernah menyentuh puncak keemasan di tanah Jawa.
Romansa Legenda dan Titik Awal Kejayaan
Kejayaan Sondokoro tidak lahir dari ruang hampa. Bagi masyarakat setempat, nama “Sondokoro” bukan sekadar koordinat geografi, melainkan warisan tutur dari legenda pertarungan dua tokoh sakti, Kyai Sondhoko dan Kyai Koro.
Konon, perdamaian di antara keduanya membawa kesuburan luar biasa bagi tanah Tasikmadu. Hal inilah yang kemudian dilirik oleh KGPAA Mangkunegara IV pada tahun 1871. Dengan visi melampaui zamannya, beliau mendirikan pabrik gula yang tidak hanya menjadi penyokong ekonomi praja, tetapi juga simbol kemandirian pribumi di tengah hegemoni kolonial.
“Jika kita bicara Sondokoro, kita bicara tentang harmoni. Dulu, alam dan manusia bekerja bersama melalui legenda itu, lalu diperkuat dengan teknologi pada masanya,” ujar Supriyanto pengamat budaya lokal yang sekaligus wakil rakyat karanganyar saat ditemui di pelataran monumen lori.
Konteks Kekinian: Bukan Sekadar Wisata Selfie
Saat ini, Sondokoro bertransformasi menjadi kawasan wisata keluarga. Namun, tantangan besar membentang. Agar tak sekadar menjadi “museum yang berdebu”, diperlukan penanganan yang tepat untuk mengawinkan aspek sejarah dengan kebutuhan generasi Z dan Milenial.
Supriyanto menekankan bahwa revitalisasi Sondokoro harus menyentuh sisi narasi, bukan sekadar fisik.
“Generasi sekarang haus akan cerita (storytelling). Kita punya modal kuat: kereta uap kuno yang masih berfungsi, arsitektur indische, dan legenda yang kuat. Jika dikelola dengan sentuhan digitalisasi dan narasi yang tepat, Sondokoro bisa menjadi pusat edukasi budaya sekaligus motor ekonomi kreatif,” tambah Supriyanto.
Menurutnya, penanganan yang tepat mencakup:
* Konservasi Aktif: Menjaga keaslian mesin giling dan lori namun dengan fasilitas pendukung modern.
* Ruang Kreatif: Mengubah sudut-sudut pabrik yang mati menjadi ruang bagi UMKM dan komunitas seni.
* Wisata Pengalaman: Wisatawan tidak hanya melihat, tapi merasakan pengalaman ‘menjadi’ buruh kebun atau bangsawan Jawa di abad ke-19.
Menuju “The Second Golden Age”
Optimisme itu nyata. Jika pemerintah dan pengelola mampu mengintegrasikan nilai sejarah dengan tren wisata berkelanjutan (sustainable tourism), bukan tidak mungkin Sondokoro akan kembali menjadi pusat perhatian nasional, bahkan internasional, seperti saat gula Tasikmadu merajai pasar dunia.
“Sondokoro itu ibarat raksasa yang sedang tidur. Kita hanya perlu membangunkan jiwanya, bukan cuma memoles raganya. Jika tepat penanganannya, zaman keemasan itu bukan lagi sejarah, tapi masa depan,” pungkas Supriyanto dengan nada mantap.
Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalur lori saat matahari terbenam di ufuk barat Tasikmadu. Seolah memberi sinyal, bahwa meski hari berganti, semangat Sondokoro tak akan pernah padam. ( bre )
