Menyingkap Tirai Mistis Pertapaan Pringgondani Tawangmangu Karanganyar, Tempat Berburu ‘Wahyu Keprabon’ di Lereng Lawu

FOKUSJATENG.COM. KARANGANYAR  – Kabut tebal perlahan turun menyelimuti tebing curam di Desa Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Di balik rimbunnya vegetasi lereng Gunung Lawu, gemercik air dari Sendang Pitu (Tujuh Mata Air) terdengar konstan, beradu dengan aroma wewangian kembang dan kemenyan yang samar-samar terbawa angin.

Di sinilah Pertapaan Pringgondani berdiri, sebuah situs spiritual yang tak pernah sepi dari senyapnya laku tirakat. Tempat ini bukan sekadar destinasi alam, melainkan sebuah ruang di mana batas antara dunia nyata dan dimensi gaib dirasa begitu tipis oleh masyarakat Jawa.

Pakar spiritual dan pemerhati budaya pawukon Jawa, Ki Legowo Bloko Carito, menuturkan bahwa Pringgondani memiliki kedudukan yang sangat disakralkan dalam kosmologi masyarakat lereng Lawu. Menurutnya, tempat ini erat kaitannya dengan fase-fase krusial runtuhnya Kerajaan Majapahit.

“Secara cerita tutur yang turun-temurun, Pringgondani merupakan salah satu petilasan Prabu Brawijaya V. Di tempat yang sunyi inilah beliau sempat melakukan laku prihatin dan bersuci sebelum akhirnya menuju puncak Lawu untuk moksa,” ujar Ki Legowo Bloko Carito saat berbincang dengan FokusJateng.com.

Ki Legowo Bloko Carito menambahkan, secara tak kasat mata, kawasan Pringgondani ini dijaga oleh sosok gaib yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Kokoroko atau Kyai Demang Kokoroko. Nama “Pringgondani” sendiri, menurut analisis budayanya, memuat filosofi mendalam.

“Kata Pring itu bambu yang melambangkan tempat teduh untuk bernaung, sedangkan Dani bermakna memperbaiki diri. Jadi, tempat ini adalah ruang untuk membersihkan jiwa yang kotor,” imbuhnya.

Daya Magis Ritual Kungkum dan Berburu ‘Wahyu Keprabon’

Salah satu magnet mistis utama di Pringgondani adalah keberadaan Sendang Pitu, dengan Sendang Manten sebagai pusat ritualnya. Pada malam-malam keramat seperti Selasa Kliwon atau Jumat Legi, sudut-sudut sendang ini dipadati peziarah yang melakukan ritual kungkum (berendam) di tengah malam buta.

Masyarakat memercayai air sendang tersebut memiliki karomah untuk membuang sengkolo (kesialan), membuka aura kewibawaan, hingga mempermudah datangnya jodoh dan pangkat.

Tak heran jika Pringgondani kerap disebut-sebut sebagai tempat “golek wangsit” tingkat tinggi. Desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut menyebutkan bahwa banyak tokoh besar, mulai dari pengusaha hingga politisi nasional, diam-diam mendatangi tempat ini demi berburu Wahyu Keprabon—sebuah legitimasi spiritual untuk meraih kekuasaan atau kelancaran karier politik.

“Bagi pelaku spiritual, Pringgondani itu salah satu gerbang gaib menuju Kerajaan Lawu. Jantungnya pasukan gaib Sabdo Palon Noyo Genggong. Sering ada peziarah yang batinnya peka mendengar sayup-sayup suara gamelan Jawa bertalu di tengah hutan pada dini hari,” urai Ki Legowo Bloko Carito.

Pantangan Gaib: Jangan Mengeluh, Jaga Pikiran

Namun, di balik jaminan ketenteraman spiritualnya, Pringgondani menyimpan “hukum adat” gaib yang ketat. Medan trekking menuju pertapaan yang berupa tangga menanjak curam sering kali menguji fisik pengunjung. Di sinilah letak ujian pertamanya.

Ki Legowo Bloko Carito mengingatkan para pengunjung atau peziarah untuk benar-benar menjaga lisan dan pikiran selama berada di kawasan suci ini. Mengeluh lelah selama perjalanan adalah pantangan utama.

“Jangan sekali-kali mengeluh lelah saat mendaki. Kalau lisan kita mengeluh, mitosnya perjalanan akan terasa berkali-kali lipat lebih berat, atau bahkan dibuat tersesat jalurnya,” tegas Ki Legowo Bloko Carito.

Selain lisan, pikiran kotor, sombong, atau berniat mesum juga dilarang keras. Kisah tutur lokal mencatat, mereka yang datang dengan niat tidak tulus atau meremehkan tempat ini sering kali langsung “ditegur” oleh penunggu gaib, mulai dari diperlihatkan penampakan ular besar, bayangan hitam tinggi, hingga jatuh sakit begitu pulang.

Menjelang petang, riuh angin Lawu seolah menegaskan bahwa Pringgondani akan selalu menjadi misteri yang memikat. Sebuah tempat di mana manusia datang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan menundukkan ego diri di hadapan Sang Penghidup lewat perantara sunyinya lereng gunung. (bre)