Fokusjateng.com – SURAKARTA – Pemerintah Kota Surakarta menegaskan komitmennya dalam menekan penyebaran HIV/AIDS melalui penguatan edukasi masyarakat, skrining aktif, serta peningkatan layanan kesehatan. Langkah tersebut dilakukan menyusul data terbaru yang menempatkan Kota Solo sebagai daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS baru terbanyak kedua di Jawa Tengah.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengatakan penanggulangan HIV/AIDS menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga dunia pendidikan.
“Edukasi akan terus kami perkuat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Kami juga akan mengoptimalkan peran Komisi Penanggulangan AIDS dan Kelurahan Peduli AIDS agar masyarakat semakin memahami bahaya HIV/AIDS serta pentingnya pencegahan sejak dini,” ujar Respati, Sabtu (30/5/2026).
Respati menambahkan, kelompok usia praremaja dan remaja menjadi perhatian khusus dalam program edukasi yang akan dijalankan Pemkot. Materi pencegahan HIV/AIDS akan diperluas melalui kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran sejak usia muda.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Retno Erawati Wulandari, menjelaskan bahwa tingginya angka temuan kasus HIV/AIDS di Solo tidak serta-merta menunjukkan tingginya tingkat penularan di kalangan warga Kota Surakarta. Menurutnya, sebagian besar kasus yang tercatat berasal dari warga luar daerah yang menjalani pemeriksaan dan pengobatan di Solo.
“Sekitar 80 persen kasus yang ditemukan merupakan warga luar Solo, sedangkan warga Solo sendiri sekitar 20 persen. Tingginya angka temuan juga dipengaruhi oleh masifnya skrining yang kami lakukan,” jelas Retno.
Ia menuturkan, strategi deteksi dini melalui skrining aktif justru menjadi langkah penting dalam pengendalian HIV/AIDS. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
Retno menyebut Solo sejak lama menjadi salah satu pusat layanan kesehatan rujukan di wilayah Soloraya. Kelengkapan fasilitas kesehatan serta faktor kenyamanan dan kerahasiaan layanan membuat banyak warga dari daerah sekitar memilih menjalani pemeriksaan di Kota Bengawan.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kota Surakarta juga terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Program edukasi dilakukan bersama Dinas Pendidikan, Komisi Penanggulangan AIDS, serta kelompok Warga Peduli AIDS di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Selain memberikan penyuluhan mengenai HIV/AIDS, program tersebut juga mencakup edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta pentingnya perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab.
Di sektor layanan kesehatan, seluruh puskesmas di Kota Surakarta kini telah berfungsi sebagai klinik Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Pemerintah juga memperkuat jejaring dengan lembaga swadaya masyarakat untuk mendampingi pasien agar tetap menjalani pengobatan secara rutin dan tidak putus terapi.
Melalui kombinasi edukasi, deteksi dini, penguatan layanan kesehatan, dan kolaborasi lintas sektor, Pemkot Surakarta berharap pengendalian HIV/AIDS dapat berjalan lebih efektif. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap ODHIV agar semakin banyak warga berani melakukan pemeriksaan dan memperoleh pengobatan sedini mungkin. (**/*Thia)
