FOKUSJATENG – SOLO – Pementasan Ramayana Balekambang bertajuk “Shinta Ilang” yang diproduksi oleh Rah Art Community kembali sukses memukau ribuan penonton di Amphi Teater Taman Balekambang, Jumat (29/5/2026) malam. Digelar mulai pukul 19.00 WIB, pertunjukan ini menjadi salah satu magnet hiburan budaya pada momen libur panjang akhir Mei yang bertepatan dengan suasana pasca Idul Adha.
Cuaca cerah yang menyelimuti Kota Solo turut mendukung jalannya pertunjukan. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah tampak memadati area amfiteater untuk menyaksikan kisah klasik Ramayana yang dikemas dengan sentuhan artistik dan segar. Pementasan ini menghadirkan para seniman lintas generasi dari Soloraya, mulai dari anak-anak hingga seniman senior yang tampil dalam satu panggung yang harmonis.
Sejak awal pertunjukan, penonton dibuat larut dalam alur cerita yang mengangkat episode hilangnya Dewi Shinta. Tata arsitektur panggung teater terbuka yang megah, permainan cahaya yang dramatis, serta iringan musik yang kuat berhasil membangun suasana emosional dan memikat perhatian penonton hingga akhir acara.
Salah satu adegan yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan kijang emas yang menjadi bagian penting dalam cerita. Adegan tarian kijang tersebut disajikan secara atraktif dengan melibatkan anak-anak yang menampilkan gerak tari lincah dan ekspresif. Tingkah lucu para penari cilik sukses memancing gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari para penonton. Suasana amfiteater pun beberapa kali dipenuhi sorak sorai dan tawa ketika adegan-adegan komedi disisipkan secara cerdas di tengah cerita.
Antusiasme penonton terlihat sepanjang pementasan. Banyak di antara mereka yang mengabadikan momen melalui telepon genggam, sementara yang lain tampak terpukau menyaksikan setiap adegan yang tersaji di atas panggung terbuka Taman Balekambang.
Sutradara pementasan, Benedictus Billy Aldi Kusuma, menjelaskan bahwa “Shinta Ilang” mengangkat nilai-nilai universal tentang kehilangan, kesetiaan, dan pengorbanan yang tetap relevan hingga saat ini.
Dalam sinopsis yang disampaikan, Benedictus menggambarkan perjalanan kisah yang dimulai dari suatu tempat yakni di Hutan Dandaka, sunyi menjadi saksi kehilangan, kesetiaan dan pengorbanan. Sarpakenaka, membawa nafsu dan luka, menyalakan awal petaka. Tipu daya lahir dari ambisi Rahwana. Marica menjelma keindahan semu—kijang emas yang memecah kesetiaan langkah. Rama pergi, Lesmana menjauh, dan sepi membuka celah.
“Shinta pun hilang—bukan karena lemah, tetapi karena dunia sering kalah oleh muslihat. Jatayu terbang melawan takdir, gugur demi kebenaran. Dari hutan yang sunyi, lahirlah satu makna: cinta diuji bukan saat bersama, melainkan saat kehilangan,” ungkap Billy yang juga Ketua Rah Community ini.
Melalui narasi tersebut, menurut Billy, pementasan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam. Kisah tentang Dewi Shinta menjadi refleksi mengenai keteguhan hati, kesetiaan, dan perjuangan menghadapi berbagai godaan serta tipu daya kehidupan.
Pementasan “Shinta Ilang” membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat modern. Kehadiran seniman lintas generasi dalam satu panggung juga menjadi simbol keberlanjutan warisan budaya yang terus dijaga dan dikembangkan.
Dengan respons positif dari ribuan penonton, Ramayana Balekambang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pertunjukan budaya unggulan di Solo. Keberhasilan “Shinta Ilang” menjadi bukti bahwa kolaborasi kreatif antara seniman, komunitas, dan ruang budaya mampu menghadirkan pertunjukan berkualitas yang menghibur sekaligus menginspirasi masyarakat.***
