Fokus Jateng-BOYOLALI,- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali memecahkan rekor dunia indonesia (MURI) dengan mengelar tari kolosal Gemati di Lapangan Simo, Boyolali, Selasa 6 Januari 2026. Tari kolosal ini diikuti sebanyak 4444 peserta yang langsung dicatat oleh perwakilan Muri. Adapun Gemati merupakan tagline dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali yang berarti gesit, empati, moderat, akuntabel, transparan dan integritas. Meski tarian gemati yang tercatat oleh Muri sebanyak 4444 orang peserta.
“Namun saat diverifikasi presensi kehadiran di lapangan oleh perwakilan Muri, pesertanya melebihi target yaitu sebanyak 5.200 orang peserta,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali, Muhammad Miftah, Selasa.
Dijelaskan, para peserta meliputi pegawai ASN di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Boyolali seperti dari 22 KUA se Kabupaten Boyolali, Guru-guru Raudhatul Athfal (RA) atau setingkat Taman Kanak-kanak, guru guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat Sekolah Dasar, guru guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setingkat SMP, guru guru Madrasah Aliyah (MAN) atau setingkat SMA hingga Guru guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Boyolali.
“Alhamdulilah hari ini kami bisa memecahkan rekor muri menari gemati dengan peserta terbanyak 4444 peserta, angka ini ada falsafahnya yaitu empat tambah empat tambah empat tambah empat yaitu enam belas, dan satu ditambah enam adalah tujuh dan dalam bahasa jawa adalah pitu, harapannya kita mendapatkan pitulungan dari Allah Swt. dalam segala hal,” kata Muhammad Miftah.
“Salah satu filosofinya yaitu kita harus memberikan layanan yang berdampak baik terhadap masyarakat maupun umat. Harapannya dengan pemecahan rekor Muri ini kita tambah semangat, etos kerja kita semakin tinggi untuk pengabdian kita kepada nusa bangsa dan negara serta agama,” imbuhnya.
Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Kegamaan Islam (Kasi Pakis), Kemenag Boyolali, Zulkifli, menambahkan pada prisnipnya kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk menyatukan seluruh warga Kemenag Boyolali, bisa saling rukun dan saling sinergi untuk mensukseskan tugas tugas kedinasan mewujudkan Boyolali yang semakin maju dan makmur.
“Inii salah satu tujuan penciptaan tari gemati yang sudah dipecahkan dan tercatat oleh Muri.”
Ia menambahkan, perbedaan agama dan lainnya, tidak menjadi satu permasalahan. Namun bisa menjadi suatu modal kemajuan bersama dan menyatukan segenap potensi. Sehingga kendala maupun tantangan yang dihadapi bisa lebih mudah.
“Sebenarnya persiapan tari Gemati ini sudah cukup lama ya sekitar 4 bulan dimulai dari penciptaan liriknya oleh bapak kepala kantor, dan diaransemen lalu diolah bersama guru guru IGRA dan jadilah seperti tadi yang kita tarikan bersama. Tentunya gemati ada maknanya yaitu gesit, empati, moderat, akuntabel, transparan dan integritas.” ujarnya.
Sementara, Kepala Muri Semarang, Ari Andriyani, mengatakan di awal tahun 2026, kantor Kementerian agama kabupaten Boyolali memprakarsai Pagelaran Tari Kolosal Gemati dengan peserta terbanyak dimana sebelumnya diusulkan sebanyak 4444 peserta, namun yang hadir lebih dari itu yaitu 5.200 peserta yang hadir.
“Muri memberikan apresiasi ini, karena untuk pagelaran tari gemati baru kali ini diselenggarakan dan Muri memberkan apresiasi Rekor Indonesia ke 12591.
Khusus untuk tari gemati baru kali ini, dan kita dari Muri memberikan apresiasi tari itu yang bersifat kearifan lokal,” katanya.
Ia menambahkan salah satu syarat utama peserta tarian jenis kolosal seperti ini minimal 250 orang peserta, dan tentunya harus yang unik dan belum ada di tempat lain,” pungkasnya. ( yull/**)
