Harga Minyakita Mulai Naik, Pedagang dan Konsumen di Boyolali Resah

fokusjateng.com – BOYOLALI,- Pemerintah berencana menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita dari kisaran harga Rp 14.000 menjadi Rp 15.500 bahkan sampai Rp 15.700 per liter. Hal ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan masyarakat di Boyolali.

Saat ini di Boyolali, harga minyak goreng subsidi tersebut justru sudah melambung jauh melampaui wacana HET yang diusulkan pemerintah.

” Saat ini harga Minyakita kemasan botol satu liter kini dibanderol di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000. Kenaikan ini sudah terjadi sejak satu bulan terakhir,” kata Endang salah satu pedagang di Pasar Rakyat Kebonagung, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Kamis 7 Mei 2026.

Wiwit pedagang lainnya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga di tingkat eceran dipicu oleh melonjaknya harga dari pihak penyuplai. Menurutnya, harga modal yang tinggi membuat pedagang sulit menjual sesuai aturan pemerintah.

“Sekarang jualnya Rp20.000 sampai Rp20.500 per botol. Itu sudah naik dari harga sebelumnya yang cuma Rp19.000. Kenaikannya sudah sekitar satu bulan ini,” katanya.

Ia menambahkan, harga dari distributor saat ini mencapai Rp236.000 per dus yang berisi 12 botol. Selain harga yang mahal, ketersediaan stok pun menjadi kendala baru bagi para pedagang pasar. “Stoknya juga sedikit, jadi kami paling hanya berani ambil 20 sampai 30 botol saja,” imbuhnya.

Melambungnya harga minyak goreng ini memukul langsung para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sulami, seorang pedagang sempol yang berjualan di area pasar, mengaku terpaksa mengurangi jumlah tusukan dalam satu porsi untuk menyiasati biaya operasional.

“Sebenarnya meresahkan kalau apa-apa naik. Kalau jualan, porsinya saja yang dikurangi untuk menutup harga yang mahal. Biasanya beli Rp10.000 dapat 20 tusuk, sekarang cuma bisa kasih 18 tusuk,” ujar Sulami. Ia memilih strategi tersebut karena ukuran produknya sudah terlalu kecil untuk dipersempit lagi.

Agus, pedagang angkringan di Boyolali kota mengatakan menolak rencana tersebut karena akan membuatnya merogoh kantong lebih dalam untuk modal belanja.

“Rencana kenaikan ini sangat memberatkan para pedagang, karena baru-baru ini kami harus menghadapi kenaikan harga kantong plastik yang ganti harga,” ujarnya.

Selain itu, kondisi ini juga mengubah perilaku konsumen rumah tangga yang mulai meragukan efisiensi Minyakita. Natalia, salah satu warga, menyebut minyak subsidi ini kini mulai kehilangan daya tariknya karena selisih harga dengan minyak premium yang kian menipis.

“Sekarang selisihnya cuma seribu rupiah sama merek premium seperti Fortune. Kalau premium buat goreng tiga kali masih aman, sedangkan Minyakita cepat sekali hitam. Jadi orang mending nambah seribu tapi kualitasnya jelas lebih bagus,” keluhnya.

Sebelumnya rencana menaikkan HET MinyaKita disampaikan Kementerian Perdagangan saat rapat koordinasi terbatas di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu 22 April. Rencana menaikkan HET MinyaKita ini masih dalam kajian Kementerian Perdagangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan sejumlah instansi terkait. Namun demikian, masyarakat di Boyolali berharap adanya tindakan nyata untuk menstabilkan harga di pasar agar tidak terus mencekik daya beli masyarakat kecil. ( yull/**)