FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Malam Sabtu ini punya rencana apa? Daripada bingung, yuk merapat ke kediaman Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, H. Sumanto, SH, di Suruh, Tasikmadu, Karanganyar. Pada Jumat malam (20/02/2026) mulai pukul 19.00 WIB, sebuah perhelatan budaya akbar Pagelaran Wayang Kulit akan digelar untuk umum.
Acara yang menghadirkan dua dalang berbakat, Ki Sulardi Pringgo Carito dan Ki Muh. Ivan Rahadi, serta bintang tamu Eka Kebumen ini, bukan sekadar hiburan biasa. Bagi H. Sumanto, pagelaran ini adalah wujud nyata komitmennya untuk menghidupi warisan leluhur di tengah gempuran budaya modern.
“Budaya Jawa bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Kita ingin generasi Z tidak lupa dengan akar sejarah dan moralitas yang kita miliki,” ujar Sumanto.
Mengapa Gen Z Harus Nonton?
Di era digital yang serba cepat, nilai-nilai kearifan lokal seringkali terpinggirkan. Melalui pagelaran ini, H. Sumanto ingin mengajak anak-anak muda melihat bahwa wayang kulit adalah media sosial “asli” Indonesia yang penuh dengan pesan filosofis tentang kehidupan, kepemimpinan, dan etika.
Filosofi Lakon: Sesaji Raja Suya
Lakon yang akan dibawakan malam nanti adalah “Sesaji Raja Suya”. Menurut sesepuh paguyuban dalang Karanganyar asal Tawangmangu, Ki Sulardiyanto, lakon ini menyimpan rahasia tentang bagaimana menjaga keutuhan sebuah bangsa.
Berikut adalah nilai-nilai moral dan filosofis dalam lakon tersebut:
-
Pengorbanan untuk Persatuan: Sesaji Raja Suya adalah ritual besar yang dilakukan oleh Prabu Yudhistira. Pesan utamanya adalah bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa dicapai jika para pemimpinnya bersatu dan menanggalkan ego pribadi.
-
Keadilan di Atas Segalanya: Dalam lakon ini, dikisahkan upaya membebaskan 100 raja yang ditawan oleh Prabu Jarasanda. Ini adalah simbol bahwa kebenaran harus diperjuangkan meski harus menghadapi kekuatan yang tampak tak terkalahkan.
-
Filosofi Kepemimpinan Jawa: Ki Sulardiyanto menjelaskan bahwa lakon ini mengajarkan Manunggaling Kawula Gusti dalam konteks sosial—bagaimana pemimpin harus menyatu dengan rakyatnya untuk menciptakan kedamaian (tata tentrem).
-
Moralitas di Era Modern: Bagi generasi muda, lakon ini mengajarkan tentang pentingnya integritas. “Di dunia yang penuh hoaks dan perpecahan, Sesaji Raja Suya mengingatkan kita untuk kembali pada kejujuran dan rasa hormat kepada sesama,” ungkap Ki Sulardiyanto.
Ayo, Lur! Jangan sampai ketinggalan. Datang dan rasakan sendiri magisnya suara gamelan serta serunya cerita wayang yang penuh makna. Mari kita buktikan bahwa budaya Jawa tetap eksis dan relevan di tahun 2026! ( bre )
