Keraton Surakarta Tegaskan Peran Budaya Lewat Kraton Art Festival 2026

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kraton Art Festival 2026 dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia pada Rabu petang (29/4/2026). (Thia/Fokusjateng.com)

fokusjateng.com – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kraton Art Festival 2026 dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia pada Rabu petang 29 April 2026. Perhelatan ini menjadi penegasan peran Keraton Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa yang tidak hanya menampilkan seni, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai tradisi di tengah perubahan zaman.

Acara tersebut dihadiri keluarga keraton, abdi dalem, seniman, budayawan, akademisi, hingga tamu dari dalam dan luar negeri.

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan keraton memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk saat peralihan dari era kerajaan ke republik. Karena itu, ia menilai pelestarian budaya membutuhkan dukungan bersama, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

“Keraton Surakarta sudah berperan besar pada pergantian dari era kerajaan ke republik. Karena itu perlu dukungan agar budaya tetap lestari,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu bentuk dukungan datang dari kalangan swasta, seperti Wong Solo Group yang selama ini ikut membantu kegiatan budaya di keraton. Ia menegaskan, dukungan tersebut penting agar kebudayaan tidak tergerus zaman.

Gusti Moeng juga mengungkapkan rencana revitalisasi sanggar pedalangan yang selama ini terbengkalai. Renovasi tengah dilakukan agar ke depan dapat digunakan kembali sebagai ruang pembelajaran pedalangan berbasis pakem Keraton Surakarta.

“Tempatnya sedang kami renovasi supaya nanti ada pembelajaran lagi pedalangan dengan pakem keraton. Ini jadi keresahan karena pakem mulai ditinggalkan,” katanya.

Dalam festival tersebut, Tari Bedhaya Sukamulya menjadi salah satu sajian utama. Tarian yang disusun Gusti Moeng ini merupakan persembahan untuk Paku Buwana XII saat peringatan usia ke-80. Nama “Sukamulya” diambil dari kata “suko” yang berarti kebahagiaan dan “mulyo” yang berarti kemuliaan.

Tarian yang dibawakan sembilan penari perempuan ini sarat pesan moral dan spiritual, sekaligus menjadi turunan dari Bedhaya Ketawang. Iringan musik gamelan dimainkan para pengrawit keraton, memperkuat nuansa sakral dalam pertunjukan.

Selain itu, fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji turut memeriahkan acara. Tarian ini mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dari Kediri dengan Raden Panji Asmorobangun dari Jenggala, yang sarat nilai kesetiaan, pengorbanan, dan perjuangan.

Seniman tari, Sardono W. Kusumo menekankan pentingnya menjadikan keraton sebagai konservatorium budaya. Ia menilai budaya Jawa memiliki kekayaan literasi yang besar, namun membutuhkan sistem yang kuat agar tetap hidup.

“Budaya Jawa ini penuh dengan literasi. Yang dibutuhkan adalah sistem dan wadah agar bisa terus hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Paku Buwana XIV Hangabehi menegaskan pentingnya revitalisasi keraton, baik secara fisik maupun nilai budaya. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan kalangan akademik, termasuk Universitas Sebelas Maret (UNS), untuk penguatan studi kebudayaan.

Tak hanya itu, festival ini juga menjadi ajang diplomasi budaya. Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza Loyola, hadir dan bertemu dengan pihak keraton. Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama budaya lintas negara.

Di akhir acara, Gusti Moeng memberikan penghargaan kepada Puspo Wardoyo atas kontribusinya dalam mendukung pelestarian budaya Jawa.

Puspo mengatakan Keraton Surakarta merupakan kebanggaan masyarakat Solo yang harus dijaga bersama.

“Sebagai masyarakat Solo kita harus ikut nguri-uri budaya. Harapannya keraton tetap rukun dan bekerja sama dengan pemerintah,” katanya.

Melalui Kraton Art Festival 2026, Keraton Surakarta menegaskan komitmennya sebagai pusat kebudayaan yang hidup, sekaligus mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan warisan budaya Jawa di masa depan.  (Thia/**)