Foto : awak pendukung ” srikandi Kridho ” saat latihan bersama
FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Pertunjukan kolosal drama tari dengan lakon “Srikandhi Krida” yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan berkolaborasi dengan masyarakat Menjing, Jenawi, Karanganyar, tak sekadar akan menyajikan tontonan epik menjelang Hari Ibu. Lebih dari itu, pertunjukan yang akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 13 Desember 2025, di Alun-Alun Desa Menjing ini bertekad menggali serta menghidupkan kembali nilai-nilai lokal gender “Bumi Lereng Lawu” yang otentik.
Menurut Ramadhan Isnain, seorang penggiat kebudayaan dan seni yang berproses menggali nilai moral lokal, lakon tentang prajurit wanita gagah berani ini menjadi pintu gerbang penting.
“Srikandi Krida (Srikandi Beraksi/Berperan) adalah kesempatan emas untuk merumuskan ulang bagaimana perempuan di wilayah Lawu ini berperan. Kita tidak hanya bicara Srikandi sebagai tokoh wayang, tetapi sebagai cermin. Di lereng Lawu, perempuan memiliki peran yang sangat kuat, sering kali sebagai ‘manajer’ keluarga dan penggerak ekonomi mikro melalui sektor pertanian dan pariwisata,” jelas Isnain.
Melampaui Wayang: Narasi Perempuan Lereng Lawu
Ramadhan Isnain menekankan bahwa narasi local gender yang diangkat sangat relevan dengan semangat Srikandi. Ini adalah tentang perempuan yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi tantangan alam dan ekonomi yang keras di kawasan pegunungan.
“Kami sedang berusaha memetakan nilai-nilai moral lokal, misalnya semangat satriya sejati yang bukan hanya milik laki-laki. Perempuan di sini, dengan ketegasan dan keberaniannya dalam mengelola sumber daya, adalah Srikandi kontemporer,” tegas Isnain.
Nilai Keberanian (Kridha) yang disimbolkan Srikandi—mampu memimpin dan bertindak tegas di medan perang—diadaptasi sebagai keberanian perempuan Lawu dalam mengambil keputusan strategis demi kesejahteraan komunitas. Demikian pula, nilai Kemandirian (kemahiran Srikandi memanah) diterjemahkan sebagai keahlian dan ketekunan perempuan dalam berwirausaha dan menjaga tradisi budaya.
Kolaborasi Budaya dan Pesan Hari Ibu
Kolaborasi antara Kemendikbudristek dan masyarakat lokal ini menjadi sinergi yang diharapkan Isnain bisa memicu kesadaran generasi muda, khususnya perempuan, untuk bangga dengan identitas dan peran mereka.
Naskah dan sutradara pertunjukan kolosal ini dipercayakan kepada maestro Gogon Sawago, didukung oleh tokoh-tokoh punakawan yang diperankan oleh seniman lokal, yaitu Suratno (Gareng), Sugiyatno (Petruk), Sri Handono (Semar), dan Supardi (Bagong).
“Intinya, lakon ini bukan sekadar melestarikan wayang kulit. Ini adalah panggung identitas,” tutup Isnain. “Kami ingin pertunjukan ‘Srikandhi Krida’ menjadi inspirasi, bahwa kaum perempuan adalah pilar yang kuat, tidak hanya dalam urusan domestik, tetapi juga dalam menjaga identitas, moral lokal, dan memajukan masyarakat Lawu.”
Pertunjukan diharapkan menjadi sarana strategis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, mencintai warisan budaya lokal, serta menginspirasi generasi muda untuk meneladani kegigihan tokoh Srikandi, baik dalam konteks pewayangan maupun kehidupan nyata di lereng Lawu. ( bre )
