Chikungunya Serang Warga Boyolali, Dinkes Lakukan Langkah Ini

FOGGING: Dinkes menggandeng bidan desa dan pemerintah desa setempat untuk melakukan fogging di Dusun Ngares, Kadireso, Teras pada Senin (11/1/2022). (/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI- 18 warga Dukuh Ngares, Kadireso, Teras terjangkit penyakit chikungunya. Penyakit tersebut sudah mewabah sejak dua pekan lalu. Tidak hanya orang dewasa penyakit chikungunya ini juga menyerang kalangan remaja.
Kabid Surveilans dan Imunisasi Dinkes Boyolali, Teguh Tri Kuncoro membenarkan adanya temuan 18 kasus cikungunya tersebut. Laporan temuan warga yang mengalami gejala cikungunya dilaporkan oleh bidan desa pada 5 Januari. Ditindak lanjuti Dinkes Boyolali dengan melakukan penyelidikan epideomologi (PE). pada 8 Januari lalu.
“Hasil PE, total penderita chikungunya ada 15 orang. Mereka mulai mengeluhkan sakit sejak 28 Desember 2021 dengan gejala secara umum ada kesamaan yaitu nyeri sendi. Lalu pada Minggu (9/1/2022) ada tambahan tiga penderita,” jelasnya.
Menurut Kepala Puskesmas Teras, Titik Fauziyati, kasus ini pertama kali muncul saat empat warga yang mengeluhkan gejala demam dan nyeri sendiri pada akhir Desember 2021 lalu. Kemudian kasus merebak hingga saat ini. Kasus ini pun dilaporkan ke Puskesmas Teras dan ditindaklanjuti PE serta fogging.
Hasil PE tersebut merujuk pada tiga Rukun Tetangga (RT) di Dusun Ngares, Kadireso, Teras yang diserang chikungunya. Warga yang terkena cikungunya ini berkisar usia 15 tahun dan dewasa. Saat ini, warga tersebut telah melakukan obat jalan.
“ Tinggal dua orang yang masih menjalani pengobatan dikarenakan kondisi belum pulih,” katanya.
Dijelaskan, sejauh ini tidak ada warga yang sampai dirawat di rumah sakit. Selain itu, petugas PE menemukan dua rumah yang terdapat jentik-jentik nyamuk. Pihaknya menggandeng bidan desa dan pemerintah desa setempat untuk melakukan fogging di tiga RT yakni, RT 21, RT 22, RT 23, Dusun Ngares, Kadireso, Teras pada Senin (11/1/2022). Sebab, tak hanya kasus chikungunya, kasus DB dan DBD juga merebak.
“Dilihat dari gejala, arahnya memang chikungunya. Kemudian pemukiman di sana memang padat dan agak kumuh, jadi mengundang sarang nyamuk. Makanya kemarin digerakkan kerjasama desa untuk giat PSN diaktifkan kembali agar tidak ada kasus baru,” pungkasnya.