Meski Wabah Corona, Proyek Jalan Tol Solo-Yogja via Wilayah Boyolali Tetap Jalan

Patok proyek tol Solo-Yogya di wilayah Boyolali sudah terpasang Kamis 11 Juni 2020. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Kendati sedang dilanda wabah Corona atau Covid-19 di Indonesia, proyek Tol Solo- Yogya terus berlanjut. Bahkan, saat ini sudah memasuki tahap pematokan lahan. Bagaimana warga menilainya?
Seperti yang terlihat di tengah areal persawahan di kawasan Desa Jembungan dan Kuwiran, Kecamatan Banyudono, sejumlah petugas telah memasang patok cor beton. Patok kuning sebagai as jalan dan patok merah merupakan batas jalan.

Menurut warga sekitar, sejumlah patok cor beton sudah terpasang di tengah areal pesawahan Desa Jembungan dan Kuwiran, Kecamatan Banyudono. Patok kuning sebagai as jalan dan patok merah merupakan batas jalan. Patok yang terpasang adalah di lahan yang akan dijadikan jalan masuk atau pintu tol. Dimana pintu masuk tol berada di jalan raya Solo- Semarang, tepatnya di sebelah barat Mapolsek Banyudono.

Salah satu warga, Wahyo (58) asal Dukuh Majegan, Desa Jembungan, Banyudono mengakui, patok tol di sawah yang digarapnya dipasang pada Rabu (10/6). Sawah tersebut sebenarnya adalah milik orang tuanya, Kromo. “Sawah ini masih milik orang tua, namun saya yang menggarap,” katanya.

Senada, Endang (47) warga Karangbulu, Kecamatan Boyolali yang memilik tanah pekarangan di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono mengakui sudah mendapat informasi tentang pematokan lahan. Bahkan, ada informasi pula jika proses ganti rugi bakal dilakukan bulan November mendatang.

Ditemui terpisah, Kades Jembungan, Banyudono, Suwarno mengungkapkan, setelah proses pematokan, maka nantinya akan dilanjutkan dengan pengukuran lahan. Hal ini untuk mengetahui luasan lahan yang terkena proyek tol.
“Nanti juga akan dilakukan sosialisasi terkait proses ganti rugi tersebut,”ujarnya.

Sementara sejumlah petugas masih Nampak melakukan pematokan lahan di areal pesawahan sebelah barat Mapolsek Banyudono. Nampak pula petugas mengoperasikan Theodolit. Yaitu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak.

Hanya saja, mereka menolak memberikan keterangan terkait pemasangan patok- patok tersebut. “Maaf saya tidak berhak memberikan keterangan apapun,” ujar salah satu petugas.