UNS Surakarta Perkuat Hilirisasi Nilam melalui Transfer Teknologi Budidaya dan Penerapan Sistem Micro-Farm-Based pada UKM Suti Sehati

Fokus Jateng-SURAKARTA- Research Group (RG) Produk Alam, Rekayasa Molekul, dan Pembelajaran Kimia dari Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat Universitas Sebelas Maret (PKM-UNS) Tahun Anggaran 2026 yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret.

Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Dr. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si. dengan anggota Dr. rer. nat. Sri Mulyani, M.Si., Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si., Dr. Susantiningrum, S.Pd., S.E., M.A., dan Nurmiyati, S.Pd., M.Si., bekerja sama dengan mitra UKM Suti Sehati yang berlokasi di Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Kimia FKIP UNS, yaitu Anida Faizatur Rahmah, Agnes Sabila Dekatrin Budi Susanti, Avida Viza Aqilla, Desvita Nurul Ilmi, Isabella, dan Siskha Sofiana, sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

 

*Hilirisasi Nilam*

Dalam upaya mendukung pengembangan usaha berbasis nilam, Tim PKM UNS menyelenggarakan kegiatan studi banding ke Desa Gunungjaya, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada 4 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh Suti selaku owner UKM Suti Sehati yang beralamat di Nguter Sukoharjo Jawa Tengah. Kegiatan dipandu oleh Babinsa Desa Gunungjaya, Pelda Kusnendar, dan dihadiri oleh para petani serta penyuling nilam berpengalaman, yang tergabung dalam Kelompok Tani Beringin Jaya dengan ketua  Wahidin Slamet.

Menurut Prof. Dr. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., minyak atsiri nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan komoditas unggulan Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku aromaterapi. parfum, kosmetik, farmasi, serta berbagai produk perawatan tubuh termasuk sabun, karena memiliki aroma khas, daya fiksatif tinggi, dan aktivitas antibakteri serta antioksidan. Tanaman nilam tumbuh optimal pada daerah tropis dengan tanah subur, berdrainase baik, dan ketinggian sekitar 100–700 m dpl. Indonesia merupakan pemasok utama minyak atsiri nilam dunia dengan kontribusi sekitar 80–90% terhadap kebutuhan pasar global.

“Harga minyak atsiri nilam kualitas ekspor pada tahun 2026 berada pada kisaran Rp910.000–1.010.000 per kg, (tergantung mutu dan kadar patchouli alcohol),” katanya.

 Berdasarkan hasil penelitian Ariani et al. (2025), minyak atsiri nilam didominasi oleh tiga komponen utama, yaitu patchouli alcohol, α-bulnesene, dan α-guaiene, yang berperan penting dalam membentuk aroma khas sekaligus mendukung aktivitas biologis minyak atsiri nilam.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh berbagai pengetahuan mengenai teknik budidaya nilam, mulai dari pemilihan bibit, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga panen dan penanganan pascapanen. Selain memperoleh wawasan mengenai budidaya, mitra juga mendapatkan pengetahuan tentang proses pengeringan bahan baku, penyimpanan simplisia, serta faktor-faktor yang memengaruhi kualitas minyak atsiri nilam. Kegiatan ini menghasilkan transfer teknologi budidaya nilam sekaligus introduksi bibit nilam dari Desa Gunungjaya yang selanjutnya dikembangkan oleh UKM Suti Sehati sebagai langkah awal penyediaan bahan baku secara mandiri.

Introduksi bibit dan transfer teknologi budidaya tersebut menjadi dasar pelaksanaan program lanjutan berupa Pelatihan dan Pendampingan Penerapan Sistem Micro-Farm-Based Nilam dengan Good Agricultural Practices (GAP) yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2026. Program ini diarahkan untuk membangun sistem budidaya nilam skala kecil yang terintegrasi dengan kegiatan pascapanen, pengeringan, penyulingan, hingga pemanfaatan minyak atsiri sebagai produk bernilai tambah.

Melalui pendekatan Micro-Farm-Based Hilirisasi Nilam, UKM Suti Sehati diharapkan mampu mengembangkan budidaya nilam secara mandiri guna menjamin ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Hasil panen nilam selanjutnya dapat diolah melalui tahapan pascapanen, pengeringan, dan penyulingan sehingga menghasilkan minyak atsiri nilam yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Minyak atsiri tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk turunan, termasuk sabun aromaterapi nilam yang dikembangkan oleh UKM Suti Sehati.

Melalui kegiatan ini diharapkan UKM Suti Sehati mampu mengembangkan sistem budidaya nilam secara mandiri, menghasilkan minyak atsiri berkualitas, serta memperkuat hilirisasi produk melalui pengembangan sabun aromaterapi berbasis minyak atsiri nilam yang memiliki nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan usaha yang lebih baik.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen UNS dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang berorientasi pada penguatan ekonomi lokal berbasis potensi sumber daya alam. Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Kegiatan pengabdian ini terlaksana melalui dukungan pendanaan Program Kemitraan Masyarakat Universitas Sebelas Maret (PKM-UNS) Tahun Anggaran 2026 berdasarkan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksanaan Pengabdian Dana Non-APBN Universitas Sebelas Maret Nomor 461/UN27.22/PT.01.03/2026 tanggal 16 April 2026. ( ist/**)