Fokus Jateng-SURAKARTA,- Para guru SDN 02 Madu 02 Madu, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. antusias memperluas wawasan dan keterampilan mereka dalam bidang Coding dan kecerdasan artifisial. Kegiatan pelatihan Coding untuk Pengembangan Kreativitas dan Logika Bagi Guru ini digelar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, guna meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis Coding dan kecerdasan artifisial.
Sekaligus menjawab tuntutan Kurikulum Merdeka yang kini mewajibkan muatan Coding dan Kecerdasan Artifisial (KA) di jenjang pendidikan dasar serta membekali guru dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan bagi peserta didik.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Sebelas Maret. Bertujuan meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis Coding dan kecerdasan artifisial sesuai dengan kurikulum terkini yang kini mewajibkan muatan Coding dan Kecerdasan Artifisial (KA) di jenjang pendidikan dasar,” kata ketua P2M UNS Prof. Dr. Sri Marmoah, S.Pd., M.Pd. dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sabtu 18 Juli 2026.
Dijelaskan bahwa Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diselenggarakan oleh Research Group (RG) Inovasi Humaniora pada 27 Juli yang diketuai oleh: Prof. Dr. Sri Marmoah, S.Pd., M.Pd. dengan anggota: Dr. Supianto, S.Pd., M, Pd., Dr. Sukarno, S.Pd., M.Pd., Dra. Jenny I.S. Poerwanti, M.Pd., dan Dra. Siti Istiyati, M.Pd.
“Jad program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis Coding dan kecerdasan artifisial sesuai dengan kurikulum terkini,” imbuhnya.
Pelatihan menghadirkan narasumber Ayik Oktafia, S.Pd., guru SDN 1 Gunungsari, Wonosamodro, Boyolali yang juga merupakan Fasilitator Coding dan Kecerdasan Artifisial (KA) Tahun 2025. Sosok yang telah meraih berbagai penghargaan bergengsi ini, di antaranya GTK Inovatif Provinsi Jawa Tengah 2024 dan GTK Inovatif Terfavorit Nasional 2024, menjadi inspirasi sekaligus pemantik semangat para peserta untuk terus berinovasi dalam dunia pendidikan.
*Berpikir Komputasional*
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara luring di SDN 02 Madu, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali ini dibuka dengan sambutan dari Kepala SDN 02 Madu dan perwakilan tim PkM UNS, dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama tentang Konsep Dasar Berpikir Komputasional.
Ayik Oktafia menjelaskan bahwa berpikir komputasional merupakan kemampuan menyelesaikan masalah secara logis dan sistematis menggunakan teknik ilmu komputer, yang relevan dalam mengembangkan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (4C).
Pada sesi ini, para peserta diajak memahami empat prinsip utama berpikir komputasional, yaitu dekomposisi (memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dikelola), pengenalan pola (mengenali kesamaan atau pola dalam berbagai masalah untuk menemukan solusi yang dapat digunakan kembali), abstraksi (menyaring informasi tidak relevan dan fokus pada hal-hal penting), serta berpikir algoritmik (menyusun langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah). Materi disampaikan secara interaktif dengan berbagai aktivitas kelas.
“Seperti permainan tebak angka dan tebak pola, yang melibatkan partisipasi aktif guru-guru peserta pelatihan,” kata Ayik.
*Coding dalam Pembelajaran*
Pada sesi kedua, narasumber membahas Implementasi Coding dalam Pembelajaran dengan membedakan dua metode utama, yakni plugged Coding yang melibatkan penggunaan perangkat elektronik, dan unplugged Coding yang mengajarkan konsep pemrograman tanpa komputer melalui aktivitas fisik, simulasi, atau permainan. Beragam platform digital diperkenalkan kepada para guru, mulai dari Scratch (scratch.mit.edu), Blockly Games (blockly.games), Code.org, Puzzel.org, hingga platform Coding LIFE (bit.ly/Coding_life) yang dikembangkan sebagai sarana pembelajaran Coding dan kecerdasan artifisial yang bersifat interaktif, menyenangkan, dan berbasis pengalaman nyata bagi siswa sekolah dasar.
Para peserta tampak antusias saat narasumber melakukan demonstrasi langsung dari setiap platform yang diperkenalkan. Berbagai contoh implementasi Coding juga ditunjukkan, mulai dari aktivitas susun balok yang melatih logika urutan, maze activities yang mengasah kemampuan berpikir algoritmik, hingga puzzle interaktif yang dapat langsung diterapkan di kelas. Setiap contoh dikaitkan erat dengan keterampilan berpikir komputasional yang sebelumnya telah dibahas, sehingga peserta memahami kesinambungan antara konsep dan praktiknya.
*Kecerdasan Artifisial dan Etikanya*
Sesi ketiga membahas Implementasi dan Etika Kecerdasan Artifisial (KA). Narasumber mengajak para guru mengenal definisi dan contoh nyata penggunaan KA dalam kehidupan sehari-hari, seperti rekomendasi video di YouTube yang disesuaikan berdasarkan riwayat tontonan, prediksi waktu tempuh dan rute di Google Maps, serta asisten virtual seperti Google Assistant dan Siri yang dapat memproses permintaan berdasarkan input suara. Perbedaan mendasar antara kecerdasan artifisial dan kecerdasan manusia juga dipaparkan secara gamblang agar para peserta dapat lebih bijak dalam memandang dan memanfaatkan teknologi ini.
Lebih lanjut, Ayik Oktafia memaparkan lima prinsip etika dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial yang perlu dipahami oleh para pendidik, yaitu kesadaran akan bias dan ketidakadilan dalam KA, privasi data dan keamanan informasi, tanggung jawab dan akuntabilitas dalam pengembangan serta penggunaan KA, keterbukaan dan transparansi dalam algoritma dan data, serta perhatian terhadap hak cipta dalam pemanfaatan KA generatif. Dalam sesi ini pula, narasumber memperkenalkan platform Storybook Gemini dan Canva Code sebagai alat berbasis KA yang dapat dimanfaatkan guru untuk menciptakan media pembelajaran inovatif.
“Guru tak bisa digantikan dengan KA, tetapi guru tanpa memanfaatkan KA akan tertinggal,” tegasnya.
*Guru Aktif dan Interaktif*
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang mendapat antusiasme tinggi dari para guru peserta pelatihan. Berbagai pertanyaan diajukan terkait cara mengintegrasikan Coding ke dalam mata pelajaran yang ada, penggunaan platform digital secara gratis di sekolah, hingga strategi pembelajaran yang menyenangkan berbasis permainan. Para peserta juga berkesempatan mencoba langsung beberapa aktivitas unplugged Coding dan mengeksplorasi platform digital yang diperkenalkan, sehingga materi yang diperoleh dapat langsung dipraktikkan untuk keperluan pembelajaran di kelas.
Kepala SDN 02 Madu turut memberikan tanggapan positif atas kegiatan pengabdian yang diselenggarakan oleh tim dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) ini. Menurutnya, materi Pembelajaran Deep Learning dan Pembelajaran Berbasis Digital sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Materi yang disampaikan memberikan wawasan baru tentang bagaimana merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi peserta didik. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran membuka peluang bagi guru untuk menciptakan proses belajar yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik di era digital. Penyampaian materi yang jelas, disertai contoh penerapan yang praktis, membuat peserta lebih mudah memahami dan siap mengimplementasikannya di kelas. Kepala sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan pendampingan implementasi di sekolah, sehingga kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning) dan pembelajaran berbasis digital semakin meningkat serta berdampak positif pada kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
Melalui kegiatan ini, UNS Surakarta berharap para guru SDN 02 Madu, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali mampu mengimplementasikan pembelajaran berbasis Coding dan kecerdasan artifisial secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab di kelas masing-masing. Program PkM ini menjadi wujud nyata komitmen UNS Surakarta dalam mendukung peningkatan kompetensi guru sekolah dasar untuk menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21, sekaligus menjawab tuntutan Kurikulum Merdeka yang menempatkan muatan Coding dan Kecerdasan Artifisial sebagai bagian penting dalam pembelajaran di sekolah dasar. ( ist,/**)
