FOKUSJATENG.COM,KARANGANYAR – Angin segar yang dihembuskan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono terkait target standar harga telur ayam di tingkat peternak sebesar Rp 24.000 per kilogram menjadi tumpuan harapan baru bagi para pelaku usaha. Pasalnya, hingga hari ini, realita di lapangan menunjukkan para peternak masih harus berjuang keras menutup biaya operasional akibat ketimpangan harga pakan.
Sartono, salah satu pelaku usaha peternakan ayam petelur asal Jatiyoso, Karanganyar, membagikan kondisi terbaru dari kandangnya. Kepada media pada Kamis (16/7/2026), ia mengungkapkan bahwa harga jual telur memang perlahan mulai merangkak naik, meski belum menyentuh angka ideal yang dijanjikan pemerintah.
“Hari ini (Kamis, 16 Juli 2026), harga telur kalau ambil langsung dari kandang sudah menyentuh **Rp 20.000 per kilogram**,” ujar Sartono.
Angka ini menunjukkan tren positif dibanding pekan lalu. Pada Kamis (9/7/2026), Sartono sempat mengeluhkan harga telur yang sempat anjlok di angka Rp 18.000 per kg sebelum akhirnya merayap ke Rp 19.000 per kg.
Meski ada kenaikan seribu hingga dua ribu rupiah dalam sepekan terakhir, Sartono menegaskan bahwa angka Rp 20.000 masih jauh dari kata aman bagi napas dapur peternak.
Dilema Pakan Mahal vs Harga Jual Rendah
Bagi peternak mandiri seperti Sartono yang mengelola kandang berkapasitas 10.000 ekor ayam di wilayah Kecamatan Jumantono, fluktuasi harga ini sangatlah krusial. Dalam kondisi ayam yang sehat (fit), produktivitas kandangnya sebenarnya sangat prima, yakni mampu mencapai 95 persen per bulan
Hasil panen telurnya pun rutin memasok kebutuhan beberapa penyuplai besar di wilayah Solo Raya, luar kota, hingga eceran ke warung-warung warga. Namun, potensi produktivitas yang tinggi ini layu sebelum berkembang akibat hantaman harga pakan.
“Kondisi saat ini antara pakan dan produksi tidak imbang karena harga pakan semakin melambung tapi harga telur justru turun (dibandingkan standar ideal),” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Jual Aset hingga Afkir Dini demi Bertahan hidup
Dampak dari tidak seimbangnya biaya produksi ini bukan perkara sepele. Demi mempertahankan operasional kandang agar tetap berputar, banyak peternak di daerah yang terpaksa mengambil langkah ekstrem.
Sartono membeberkan bahwa tidak sedikit rekan seprofesinya yang mulai kehabisan napas dan terpaksa gulung tikar secara perlahan.
“Dampaknya luar biasa. Peternak banyak yang terpaksa menjual aset mereka. Ada juga yang memilih melakukan afkir (meremajakan/menjual ayam petelur yang masih produktif untuk dipotong) lebih awal karena sudah tidak kuat beli pakan,” keluh Sartono pilu.
Oleh karena itu, janji dan pernyataan Wamentan Sudaryono yang menetapkan standar harga telur di angka Rp 24.000 per kg di tingkat peternak dinilai sebagai satu-satunya pelampung penyelamat yang dinanti-nanti.
“Itu (standar harga Rp 24.000 per kg) yang sangat kita tunggu realisasinya,” pungkas Sartono penuh harap.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Di tengah harga telur yang perlahan naik ke angka Rp 20.000 per kg hari ini, para peternak di lereng Gunung Lawu hanya bisa berharap janji manis dari pusat bisa segera mendarat nyata di kandang-kandang mereka. ( ga/bre )
