Fokus Jateng SURAKARTA,- Keberadaan Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menunjukkan sebuah komitmennya dalam memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di dunia pendidikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pendampingan Kampus Benteng Pancasila dalam Meningkatkan Literasi dan Nilai Toleransi pada Hari Belajar Guru di SMA Negeri 2 Sukoharjo, pada Jumat, 10 Juli 2026 di Aula SMA Negeri 2 Sukoharjo.
Kegiatan ini diikuti Prof. Dr Triyanto, SH, M.Hum, Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd, Prof. Dr. Winarno, S.Pd, MSi, Dr. Deni Zein Tarsidi, M.Pd., Dr. Endrise Septina Rawanoko, S.Pd., M.Pd dan Dr. Bramastia, S.Pd, M.Pd serta seluruh guru sebagai bagian dari implementasi kebijakan Hari Belajar Guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi profesional pendidik secara berkelanjutan.
Menurut Dr. Bramastia, S.Pd, M.Pd kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam mendukung terwujudnya ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi akademik guru, tetapi juga pada penguatan karakter, budaya literasi, dan nilai-nilai toleransi yang menjadi fondasi pendidikan di Indonesia.
“Melalui program ini, PSPP LPPM UNS berupaya menghadirkan ruang refleksi sekaligus forum berbagi praktik baik bagi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital,” katanya.
Program ini, lanjut Bramastia juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan sekaligus kontak media yang menginduk pada website resmi Universitas Sebelas Maret (UNS).
*Berlangsung Khidmat*
Sementara kegiatan diawali proses registrasi peserta yang dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara. Seluruh peserta kemudian bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kebangsaan. Suasana khidmat semakin terasa ketika kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa sebagai harapan agar seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat bagi seluruh peserta.
Sambutan awal disampaikan oleh Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum selaku Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) LPPM UNS yang baru. Dilanjutkan pembukaan acara secara resmi oleh Drs. Ismawanto selaku Kepala SMA Negeri 2 Sukoharjo.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum menyampaikan apresiasi kepada PSPP LPPM UNS yang telah memilih SMA Negeri 2 Sukoharjo sebagai mitra pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini, khususnya dalam menghadapi tantangan pembelajaran di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya keberagaman karakter peserta didik di sekolah.
Sebaliknya, Kepala SMA Negeri 2 Sukoharjo, Drs. Ismawanto berharap materi yang diberikan dapat memperkuat kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif, menumbuhkan budaya dialog yang sehat, serta menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik melalui praktik pembelajaran sehari-hari. Acara dilanjutkan dengan sesi materi masing-masing pembicara.
*Guru Teladan Toleransi*
Memasuki sesi inti pertama, Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd menyampaikan materi bertajuk “Toleransi dalam Hari Belajar Guru”. Diawali pemaparan dengan menjelaskan kebijakan Hari Belajar Guru sebagai ruang belajar mandiri dan refleksi profesional bagi guru yang dilaksanakan secara berkelanjutan di sekolah. Program tersebut merupakan implementasi semangat pembelajar sepanjang hayat, di mana guru tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogik, tetapi juga mengembangkan karakter dan budaya kerja kolaboratif.
“Bahwa toleransi bukan sekadar konsep teoritis, melainkan keterampilan sosial yang harus dipraktikkan setiap hari dalam lingkungan sekolah,” tegas Prof. Dr. Leo.
Dijelaskan, guru memiliki posisi strategis sebagai teladan yang menentukan terciptanya iklim sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman. Oleh karena itu, guru dituntut mampu menghormati perbedaan agama, suku, budaya, ras, maupun latar belakang sosial peserta didik tanpa diskriminasi.
Lebih jauh, dikemukakan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga munculnya berbagai persoalan seperti intoleransi, perundungan (bullying), serta kekerasan di lingkungan sekolah.
“Oleh sebab itu, guru perlu memahami regulasi yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan di satuan pendidikan sekaligus mengembangkan budaya sekolah yang menghargai keberagaman melalui pembelajaran yang inklusif,” paparnya.
Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd juga mengajak guru untuk memanfaatkan Komunitas Belajar (Kombel) sebagai wadah refleksi bersama dalam membahas berbagai kasus nyata yang terjadi di sekolah, mulai dari persoalan intoleransi, diskriminasi, hingga strategi menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi seluruh peserta didik.
” Keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah, tetapi harus diwujudkan melalui budaya sekolah yang dibangun secara kolektif oleh seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan toleransi. Setiap interaksi antara guru dan peserta didik merupakan kesempatan untuk menanamkan sikap saling menghargai, empati, keadilan, dan penghormatan terhadap hak setiap individu sebagai implementasi nyata nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah.
*Literasi Digital Perlu Berbasis Bukti*
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Deni Zein Tarsidi, M.Pd. dengan tema “Guru sebagai Benteng Pancasila: Dari ‘Katanya’ Menjadi ‘Apa Buktinya?'”. Beliau mengawali materi dengan menggambarkan perubahan tantangan pendidikan era digital. Jika dahulu guru menghadapi keterbatasan informasi, kini tantangannya justru berupa melimpahnya informasi yang belum tentu benar. Kondisi tersebut menuntut guru memiliki kemampuan literasi digital yang lebih baik agar mampu membimbing peserta didik memilah informasi secara kritis.
Dr. Deni Zein Tarsidi, M.Pd menjelaskan bahwa literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi mencakup kemampuan mencari bukti, mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, berpikir logis, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta. Guru perlu membiasakan peserta didik untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial, melainkan selalu bertanya, “Apa buktinya?”, “Apa sumbernya?”, dan “Apakah terdapat sudut pandang lain?” sebelum menerima suatu informasi sebagai kebenaran.
Selain literasi digital, Dr. Deni Zein Tarsidi, M.Pd juga menghubungkan kemampuan berpikir kritis dengan pembangunan budaya toleransi di sekolah.
Menurutnya, toleransi bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama, tetapi kemampuan menghargai perbedaan, berdialog secara santun, serta bekerja sama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
“Guru perlu menjadi moderator dialog di kelas dengan membiasakan peserta didik menyampaikan argumentasi berdasarkan data, menghargai pendapat orang lain, serta menghindari sikap menyalahkan atau menyerang individu,” jelasnya.
Menutup sesi materinya, Dr. Deni Zein Tarsidi, M.Pd mengingatkan bahwa guru merupakan benteng utama dalam menjaga nilai-nilai Pancasila. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun karakter peserta didik melalui pembiasaan berpikir kritis, bertanggung jawab, toleran, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan bukti dan nilai-nilai kemanusiaan.
Guru Interaktif
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara aktif dan interaktif. Para guru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dengan narasumber mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi selama proses pembelajaran. Beberapa guru menyampaikan bahwa perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat peserta didik semakin mudah memperoleh informasi, namun sering kali kesulitan membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Deni Zein Tarsidi menjelaskan bahwa guru perlu membangun budaya bertanya melalui pendekatan sederhana, yaitu membiasakan peserta didik menguji setiap informasi dengan pertanyaan “Apa buktinya?” dan “Dari mana sumber informasi tersebut?” sehingga peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis sebelum menyimpulkan suatu informasi. Diskusi juga berkembang pada persoalan menjaga toleransi di lingkungan sekolah yang memiliki latar belakang peserta didik yang beragam.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Leo Agung S. menekankan bahwa toleransi harus dibangun melalui pembiasaan dalam aktivitas belajar sehari-hari. Guru perlu menciptakan ruang dialog yang aman, memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk menyampaikan pendapat, serta mengajarkan cara menghargai perbedaan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. Menurut beliau, budaya toleransi akan tumbuh apabila seluruh warga sekolah memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.
Guru-guru juga berbagi praktik baik yang telah diterapkan di SMA Negeri 2 Sukoharjo, seperti pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok heterogen, serta kegiatan sekolah yang melibatkan seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang. Berbagai pengalaman tersebut kemudian didiskusikan bersama narasumber untuk memperkaya strategi implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para peserta aktif bertukar pengalaman mengenai cara mengelola perbedaan pendapat di kelas, menangani konflik antarpeserta didik secara edukatif, serta mengembangkan budaya literasi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, berdialog, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian simpulan oleh moderator yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di dunia pendidikan. Seluruh peserta kemudian mengikuti sesi foto bersama sebagai simbol komitmen untuk terus membangun budaya literasi, toleransi, dan pembelajaran yang humanis di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, PSPP LPPM UNS berharap para guru mampu mengimplementasikan hasil pendampingan dalam praktik pembelajaran sehari-hari sehingga Hari Belajar Guru tidak hanya menjadi agenda peningkatan kompetensi profesional, tetapi juga menjadi wahana memperkuat karakter, budaya dialog, dan nilai-nilai toleransi yang akan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. (Ist/humas uns/**)
