Fokusjateng-SURAKARTA-Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai salah satu proyek percontohan penguatan kewirausahaan mahasiswa melalui program PRO-KESRA Produktif. Langkah itu ditempuh untuk memperkuat ekosistem yang menghubungkan mahasiswa tidak hanya dengan pelatihan, tetapi juga pendampingan, inkubasi, akses pembiayaan hingga perluasan pasar.
Komitmen tersebut ditandai melalui penyelenggaraan WIBAWA Grow Day 2026: Berani Mulai, Siap Bertumbuh yang diikuti 400 mahasiswa Program Wirausaha Muda Mahasiswa (WIBAWA) UNS di Aula FKIP UNS, Surakarta, Sabtu, 18 Juli 2026.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik mengatakan UNS dipilih sebagai salah satu lokasi uji coba PRO-KESRA Produktif karena telah memiliki ekosistem pembinaan wirausaha yang berjalan konsisten sejak 2021 melalui program WIBAWA. Menurut dia, kolaborasi itu diharapkan memperkuat proses lahirnya pengusaha muda dari lingkungan perguruan tinggi.
“UNS sudah memiliki proses inkubasi yang berjalan dengan baik. Kami ingin memperkuatnya melalui PRO-KESRA, kemudian pada fase graduasi diperkuat melalui Bursa Wirausaha Unggulan, dan setelah itu perkembangan usahanya dimonitor melalui SAPA UMKM,” kata Riza seusai acara.
Ia menjelaskan PRO-KESRA Produktif tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka akses terhadap pendampingan, inkubasi, pembiayaan, sertifikasi, legalitas usaha hingga akses pasar. Seluruh layanan tersebut terintegrasi melalui platform SAPA UMKM sehingga peserta dapat memperoleh pendampingan sesuai tahap perkembangan usahanya.
Menurut Riza, program itu menjadi bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang menargetkan terciptanya 10 juta penduduk berusaha dan bekerja. Kementerian UMKM saat ini juga telah mengidentifikasi 754 lembaga inkubator di Indonesia yang akan diperkuat sebagai mitra pengembangan wirausaha.
“Pendekatannya bukan lagi sekadar pelatihan, tetapi membangun ekosistem. Mahasiswa yang belum memiliki perencanaan bisnis akan dibantu menyusunnya, yang belum memiliki pembukuan diperbaiki, yang belum memiliki akses teknologi, pembiayaan maupun pasar juga akan didampingi,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Dody Ariawan menyatakan kerja sama dengan Kementerian UMKM akan memperkuat program WIBAWA yang selama ini menjadi program khas UNS dalam mencetak wirausaha muda. Selama ini pembinaan di kampus lebih banyak menghasilkan calon wirausaha dan wirausaha pemula, sedangkan kolaborasi dengan pemerintah diharapkan mampu mendorong mereka menjadi pengusaha yang lebih mapan.
Menurut dia, minat mahasiswa terhadap kewirausahaan terus meningkat. Tahun ini terdapat sekitar 600 proposal usaha yang diajukan mahasiswa, namun kampus baru mampu membiayai sekitar 170 proposal yang melibatkan sekitar 800 mahasiswa.
UNS, kata dia, juga membangun ekosistem kewirausahaan secara menyeluruh. Selain mewajibkan mata kuliah kewirausahaan bagi seluruh mahasiswa, kampus memiliki Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa, Innovation Hub (iHub) sebagai inkubator bisnis, pendamping kewirausahaan di setiap fakultas, hingga rekognisi akademik berupa konversi kegiatan kewirausahaan menjadi maksimal 20 SKS. Program WIBAWA sendiri memberikan hibah modal usaha sebesar Rp5 juta hingga Rp15 juta bagi setiap kelompok mahasiswa.
Dalam sambutannya, Dody menegaskan perubahan orientasi lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja merupakan bagian dari kebijakan strategis perguruan tinggi. Kampus, menurutnya, harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji ide, membangun usaha riil, sekaligus memperoleh pengakuan akademik atas proses tersebut.
Riza menambahkan hasil dialog dengan peserta menunjukkan banyak mahasiswa mulai mengembangkan usaha di sektor produksi seperti pengolahan makanan, fesyen, hingga produk kreatif. Menurut dia, sektor tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding hanya menjual bahan baku serta berpotensi menyerap lebih banyak tenaga kerja.
“Kami optimistis jika potensi daerah seperti kuliner, pertanian, dan ekonomi kreatif dipadukan dengan inovasi serta teknologi dari anak-anak muda, maka ekonomi akan tumbuh lebih kuat dan mampu menciptakan lapangan kerja baru,” kata Riza. (**/*Thia)
