Dishub Boyolali Dorong Transformasi Keselamatan Lalu Lintas: Dari Reaktif ke Preventif (2025–2027)

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Boyolali, Insan Adi Asmono (Doc/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-BOYOLALI – Dinas Perhubungan Kabupaten Boyolali menegaskan komitmennya untuk melakukan transformasi besar dalam sistem keselamatan lalu lintas melalui pendekatan preventif berbasis data pada periode 2025–2027. Langkah ini diambil menyusul hasil evaluasi terbaru yang menunjukkan dinamika penting dalam tren kecelakaan lalu lintas di wilayah Boyolali.

Berdasarkan data tahun 2024–2025, jumlah korban kecelakaan mengalami peningkatan sebesar 18,5 persen, dari 2.039 menjadi 2.416 korban. Namun di sisi lain, angka fatalitas justru menurun 13,2 persen, dari 129 menjadi 112 jiwa. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran karakter risiko lalu lintas, dari kecelakaan yang mematikan menjadi kecelakaan dengan tingkat keparahan lebih rendah namun frekuensi kejadian lebih tinggi.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Boyolali, Insan Adi Asmono, menyampaikan bahwa fenomena ini menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan ke depan.

“Ini bukan sekadar angka statistik. Artinya, upaya kita dalam menekan fatalitas mulai berhasil, tetapi pencegahan kecelakaan secara keseluruhan masih perlu diperkuat,” ujarnya. Senin 20 April 2026.

Dishub mencatat bahwa lebih dari 95 persen korban kecelakaan merupakan korban luka-luka, yang berdampak signifikan terhadap beban sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk biaya kesehatan, kehilangan produktivitas, dan penurunan kualitas hidup.

Analisis menunjukkan bahwa titik rawan kecelakaan masih didominasi oleh simpang jalan dan koridor utama dengan volume lalu lintas serta kecepatan tinggi. Oleh karena itu, penanganan tidak lagi hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga pada perbaikan sistem secara menyeluruh.

Dalam kerangka pendekatan Safe System Approach dan Vision Zero, keselamatan lalu lintas diposisikan sebagai tanggung jawab sistem, bukan semata kesalahan pengguna jalan. Kebijakan ke depan akan difokuskan pada rekayasa lalu lintas, manajemen kecepatan, serta pengendalian konflik di titik-titik rawan.

Simulasi kebijakan menunjukkan bahwa tanpa intervensi yang signifikan, jumlah korban kecelakaan berpotensi meningkat hingga lebih dari 2.700 korban pada tahun 2026. Namun, melalui pendekatan integratif lintas sektor, Dishub menargetkan penurunan jumlah korban sebesar 15–20 persen dan penurunan fatalitas hingga 20–30 persen.

Transformasi keselamatan lalu lintas Boyolali akan bertumpu pada tiga pilar utama:

Penanganan berbasis lokasi risiko, terutama pada simpang dan koridor rawan kecelakaan.

Penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Balai Pengelola Transportasi Darat untuk jalan provinsi dan nasional.

Kebijakan berbasis data, dengan setiap intervensi didasarkan pada analisis empiris.

Pada kesempatan ini, Dinas Perhubungan Kabupaten Boyolali juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan kecelakaan lalu lintas, khususnya kepada Jasa Raharja, jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, rumah sakit dan seluruh unit layanan kesehatan, serta para relawan ambulans yang selama ini berada di garda terdepan dalam penanganan korban kecelakaan. Sinergi dan dedikasi seluruh pihak tersebut menjadi bagian penting dalam menurunkan fatalitas dan meningkatkan respons penanganan darurat di Boyolali.

Dishub Boyolali menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas bukan hanya isu teknis, tetapi juga bagian dari agenda kemanusiaan dan pembangunan daerah.

“Setiap perjalanan masyarakat—ke sekolah, bekerja, maupun beraktivitas sehari-hari—harus bisa berlangsung dengan aman. Ini adalah investasi bagi masa depan Boyolali,” tutup Insan. ( ist/**)