Supriyanto : Menelusuri Jejak Mentalitas Randu Songo, Warisan Perjuangan Sambernyawa untuk Resiliensi Gen Z Karanganyar 

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR, OPINI  – Di balik rimbunnya sembilan pohon randu yang berdiri kokoh di Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, tersimpan narasi besar tentang strategi gerilya dan keteguhan iman. Situs Randu Songo bukan sekadar deretan pohon tua atau punden keramat; ia adalah sebuah artefak mentalitas yang kini tengah dikaji relevansinya bagi generasi muda.

Supriyanto, seorang pengamat dan penggiat sejarah budaya lokal yang kini tengah menempuh studi Magister (S2) Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret (UNS), melihat situs ini sebagai jembatan penghubung antara masa lalu yang heroik dengan masa depan Gen Z yang penuh tantangan.

Jejak Senopati dan Strategi Gerilya

Secara historis, Randu Songo memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Wilayah Karanganyar, termasuk Tasikmadu, merupakan basis pertahanan gerilya saat melawan VOC.

“Kaitan geografisnya sangat kuat. Di lokasi ini terdapat petilasan tokoh yang dikenal sebagai Kyai Randu Songo, ulama sekaligus pejuang yang diyakini sebagai pengikut setia atau senopati Raden Mas Said,” ujar Supriyanto.

Menurutnya, pemilihan lokasi seperti Randu Songo sebagai tempat persembunyian bukan tanpa alasan. Strategi gerilya Sambernyawa menuntut pemanfaatan alam yang cerdik, menjadikan tempat-tempat tersembunyi sebagai pusat komando sekaligus ruang spiritual untuk memperkuat mental pejuang.

Bukan Sekadar Mitos, Tapi Soal Mentalitas

Bagi Supriyanto, nilai terbesar dari Randu Songo bagi Gen Z bukanlah pada unsur mistisnya, melainkan pada *mentality* atau pola pikir yang diwariskan. Ada beberapa poin krusial yang menurutnya bisa menjadi “jangkar” bagi anak muda di era digital:

* Filosofi Tiji Tibeh: Ajaran Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh milik Sambernyawa adalah puncak solidaritas. “Di era yang individualis ini, Gen Z perlu belajar bahwa kolaborasi jauh lebih kuat daripada kompetisi murni. Sukses satu, sukses semua,” jelasnya.
* Kreativitas di Tengah Keterbatasan: Para pejuang di masa lalu mampu melawan kekuatan besar (VOC) dengan fasilitas seadanya melalui strategi yang cerdik. Ini adalah pesan resiliensi bagi Gen Z agar tidak mudah menyerah meski memulai sesuatu dengan modal terbatas.
* Akulturasi yang Harmonis: Situs ini menunjukkan bagaimana nilai Islam dan budaya Jawa bisa berjalan beriringan. Kemampuan adaptasi tanpa kehilangan identitas diri adalah skill bertahan hidup yang vital di abad ke-21.

Melawan Budaya Instan

Sebagai politisi yang tertarik dan kinsen terhadap ilmu budaya, Supriyanto menyoroti fenomena instant gratification atau budaya serba instan yang menjangkiti anak muda.

“Pohon randu di situs ini butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk menjadi penanda sejarah. Begitu juga perjuangan. Sejarah mengajarkan kita bahwa sesuatu yang bermakna itu memerlukan proses panjang, tidak ada sukses yang terjadi hanya dalam semalam seperti yang sering terlihat di media sosial,” tambahnya.

Melalui keberadaan Situs Randu Songo, generasi muda di Karanganyar diharapkan tidak hanya melihatnya sebagai objek wisata religi, tetapi sebagai cermin untuk memahami jati diri. Dengan mengenal akar sejarah lokal, Gen Z akan memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat dalam menghadapi arus globalisasi.

“Menghargai Situs Randu Songo berarti menghargai proses panjang yang membentuk kita hari ini. Sejarah bukan sekadar hafalan tahun, tapi pedoman untuk melihat masa depan,” pungkas Supriyanto. ( Bre suroto  )