Sartono,Menjaga ‘Nadi’ Karanganyar dengan Laku Hidup Marhaen

FOKUSJATENG.COM, JATIYOSO – Di balik deru mesin penggilas aspal dan kokohnya beton jembatan yang membentang di Kabupaten Karanganyar, ada sosok yang konsisten mengawasi dalam diam. Ia adalah Sartono, kader senior PDI Perjuangan asal Jatiyoso yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Komisi C DPRD Karanganyar.

Bagi rekan sejawat maupun mitra kerja di pemerintahan, Sartono dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara. Namun, jangan salah sangka—diamnya Sartono adalah bentuk ketelitian. Saat progres pembangunan infrastruktur mulai melambat atau melenceng dari jadwal, suaranya akan hadir sebagai pengingat yang tegas namun tetap santun.

Prinsip “Urip Iku Murup”

Bagi pria yang tumbuh di kawasan pegunungan kaki Gunung Lawu ini, jabatan bukanlah sekadar kursi kekuasaan, melainkan alat untuk menebar manfaat. Sartono memegang teguh prinsip hidup bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang laku hidupnya bermanfaat bagi lingkungan, sedulur (saudara), dan alam sekitar.

“Hidup itu tentang bagaimana kita bisa memberi dampak. Jika infrastruktur bagus, ekonomi rakyat lancar, di situlah manfaat kita sebagai wakil rakyat terasa,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan diskusi santai.

Tak Canggung di Kaki Lawu

Terlahir dari latar belakang geografis dan demografis Marhaen, Sartono memiliki ikatan batin yang kuat dengan rakyat kecil. Hal ini membuatnya tak pernah canggung untuk turun langsung, duduk melingkar, dan belajar bersama warga di pelosok pegunungan.

Kondisi medan Jatiyoso yang menantang justru membentuk karakternya menjadi pribadi yang tangguh dan peka terhadap ketimpangan. Ia memahami betul bahwa setiap jengkal jalan yang diperbaiki adalah harapan bagi petani sayur di kaki Lawu untuk membawa hasil panennya ke pasar dengan lebih mudah.

Penjaga Gawang Infrastruktur

Sebagai Ketua Komisi C, Sartono memosisikan dirinya sebagai “penjaga gawang”. Fokusnya jelas: memastikan setiap rupiah uang rakyat kembali ke rakyat dalam bentuk fasilitas publik yang berkualitas.

Meskipun ia irit bicara di depan kamera, tindakannya di lapangan berbicara lebih keras. Ia tidak segan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memastikan proyek fisik berjalan sesuai spesifikasi. Baginya, keterlambatan pembangunan bukan sekadar masalah teknis, tapi soal pelayanan publik yang tertunda.

Sartono adalah potret nyata kader Banteng yang setia pada akar rumput.

Dari Jatiyoso  ia membuktikan bahwa pengabdian tidak harus selalu gegap gempita; terkadang, pengabdian terbaik dilakukan dalam kesunyian, melalui pengawasan yang jeli dan hati yang tetap membumi.  ( bre suroto )