FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Di tengah kepungan tren digital dan budaya luar yang kian masif, desa-desa di Karanganyar sebenarnya menyimpan “senjata rahasia” untuk menjaga jati diri warganya. Senjata itu bukan teknologi canggih, melainkan narasi lama yang tersembunyi dalam toponimi pundhen.
Supriyanto, seorang penggiat budaya yang kini tengah mendalami studi S2 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, memandang bahwa nama-nama pundhen di lereng Lawu bukan sekadar label geografis atau klenik semata.
“Toponimi pundhen itu adalah arsip hidup. Ia menyimpan memori kolektif tentang siapa kita dan bagaimana desa ini bermula,” ujar Supriyanto.
Pundhen sebagai Identitas, Bukan Sekadar Mitos
Bagi pria yang akrab dengan riset kebudayaan ini, nama sebuah pundhen sering kali merujuk pada tiga hal: nama tokoh pambuka desa (eponim), peristiwa sejarah, atau simbol harapan. Di Karanganyar, pundhen bukan hanya soal makam leluhur, tapi pusat ekosistem dan sosial.
“Ketika kita menyebut nama sebuah pundhen, kita sebenarnya sedang memanggil kembali sejarah perjuangan babat alas leluhur kita. Sayangnya, banyak generasi muda yang hanya tahu tempatnya, tanpa tahu maknanya,” tambahnya.
Jangkar Karakter di Era Disrupsi
Lantas, apa hubungannya dengan karakter generasi muda? Supriyanto menekankan pentingnya konsep Sangkan Paraning Dumadi—memahami asal-usul untuk menentukan arah masa depan.
Menurutnya, ada tiga alasan mengapa pemahaman toponimi pundhen penting bagi Gen Z dan milenial:
1. Tameng Inferioritas: Dengan mengenal sejarah hebat di balik desanya, anak muda tidak akan merasa rendah diri (minder) saat berhadapan dengan budaya luar. Mereka punya kebanggaan akan akar aslinya.
2. Laboratorium Etika: Tradisi di sekitar pundhen, seperti Bersih Desa atau Mondosiyo, adalah ruang belajar gotong royong dan penghormatan kepada yang lebih tua—nilai yang sering terkikis oleh sifat individualis budaya asing.
3. Kearifan Lingkungan (Eco-Wisdom): Pundhen biasanya berada di dekat sumber air atau pohon raksasa. Memahami toponiminya secara otomatis melatih kepedulian anak muda terhadap kelestarian alam lokal.
Memfilter Budaya Luar
Supriyanto mengingatkan bahwa arus budaya luar tidak semuanya buruk, namun tanpa filter yang kuat, kearifan lokal bisa tergerus habis.
“Kita tidak antikemajuan. Tapi kita butuh jangkar. Jika anak muda paham sejarah pundhen desanya, mereka punya standar nilai. Mereka bisa memilah mana budaya luar yang memperkaya diri dan mana yang justru merusak tatanan sosial kita,” jelas mahasiswa pascasarjana UNS tersebut.
Melalui studinya, ia berharap narasi toponimi ini bisa dikemas lebih modern agar relevan dengan generasi digital. Baginya, melestarikan pundhen bukan berarti mengajak orang kembali ke masa lalu, melainkan membekali mereka dengan identitas yang kokoh untuk menghadapi masa depan. ( bre suroto )
