FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Di balik riuhnya ruang sidang DPRD Karanganyar, sosok Latri Sulistyowati seringkali menjadi oase bagi persoalan ekonomi kerakyatan. Sebagai Ketua Komisi B, ia memegang kemudi kebijakan yang bersentuhan langsung dengan perut rakyat: perdagangan, industri, hingga pemberdayaan ekonomi. Namun, bagi masyarakat Bumi Intanpari, Latri bukan sekadar pejabat yang duduk manis di balik meja jati.
Ia adalah potret srikandi “Moncong Putih” yang memilih untuk “manjing ajur-ajer”—melebur dan menyatu dengan denyut nadi keresahan warganya.
Suara Lantang untuk Kaum Buruh
Salah satu kiprah yang paling melekat adalah keberaniannya dalam mengadvokasi hak-hak buruh. Di sela kesibukannya mengawasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Latri kerap terlihat turun langsung mendampingi teman-teman pekerja.
Bagi Latri, memperjuangkan hak buruh bukan sekadar menjalankan fungsi pengawasan, melainkan soal kemanusiaan. Ia konsisten memastikan bahwa regulasi ketenagakerjaan di Karanganyar tidak hanya menguntungkan investasi, tetapi juga memanusiakan para pekerjanya. Ketegasannya saat memediasi sengketa industrial menjadikannya figur yang disegani sekaligus dicintai oleh kalangan serikat pekerja.
Membidik Prestasi lewat Busur Panah
Menariknya, energi Latri seolah tidak ada habisnya. Di tengah padatnya agenda politik, ia juga dipercaya menakhodai Pengurus Kabupaten Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Karanganyar. Di bawah kepemimpinannya, olahraga panahan bukan lagi sekadar hobi eksklusif, melainkan wadah pembinaan mental bagi generasi muda.
Filosofi memanah tampaknya ia terapkan dalam kehidupan politiknya: fokus, tenang, dan tepat sasaran. > “Dalam panahan, kita belajar mengendalikan diri sebelum membidik target. Begitu juga dalam memperjuangkan hak rakyat, harus fokus dan konsisten sampai tujuan tercapai,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.
Sebagai kader PDI Perjuangan, Latri memahami betul arti menjadi penyambung lidah rakyat. Narasi yang ia bangun selalu berpijak pada data lapangan. Tak heran jika naskah-naskah kebijakannya seringkali lahir dari diskusi santai di warung-warung kecil atau sela-sela kunjungan ke pasar tradisional.
Di Karanganyar, ia membuktikan bahwa seorang legislator perempuan mampu membagi peran dengan apik: menjadi ibu bagi aspirasi rakyat, singa di podium parlemen, dan pengayom bagi para atlet.
Kiprah Latri Sulistyowati adalah pengingat bahwa politik, pada akhirnya, adalah tentang pengabdian yang tanpa sekat. Antara memperjuangkan upah layak buruh dan membidik emas di lapangan panahan, Latri sedang menuliskan catatan sejarah tentang bagaimana seorang Srikandi modern bekerja untuk tanah . ( bre suroto )
