Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS Surakarta Selenggarakan Mitigasi Risiko Pendakian Berbasis Biodiversitas Gunung Lawu

Fokus Jateng-SOLO- Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkolaborasi dengan Divisi Lingkungan Hidup Gopala Valentara, komunitas pendaki serta sukarelawan konservasi dalam pemanfaatan tanaman obat sebagai Strategi Mitigasi Risiko bagi Komunitas Pendaki di Gunung Lawu. “Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat dalam membangun budaya pendakian yang aman, tangguh, dan berwawasan lingkungan,” kata Kepala Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS Surakarta Dr. Anang Setiyawan, SH,MH. Senin 21 September 2026.

Dijelaskan, pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi yang mengkombinasikan pembelajaran teoritis dan praktik lapangan. Pada sesi pertama berupa sosialisasi dan penyampaian materi diselenggarakan pada 4 September 2026 dengan diikuti 26 peserta yang berasal dari komunitas pendaki, organisasi pecinta alam, serta sukarelawan konservasi lingkungan. Adapun materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis-jenis tanaman obat yang tumbuh di kawasan Gunung Lawu, manfaatnya sebagai pertolongan awal dalam kondisi darurat, prinsip pemanfaatan yang bertanggung jawab serta pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pegunungan.

Selanjutnya, untuk sesi kedua dilaksanakan pada 5-6 September 2026 melalui kegiatan praktik lapangan di jalur pendakian Gunung Lawu via babar di desa Agrasmanis, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Pada kegiatan ini peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengidentifikasi tanaman obat di habitat alaminya, memahami karakteristik morfologi tanaman, serta mempelajari teknik pemanfaatan sederhana yang dapat diterapkan dalam situasi kedaruratan selama pendakian tanpa mengabaikan prinsip-prinsip konservasi.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas pendakian gunung dalam beberapa tahun terakhir yang diikuti dengan berbagai potensi risiko, seperti kelelahan, cedera ringan, hipotermia, hingga keterbatasan akses terhadap bantuan medis di kawasan pegunungan.

“Dalam kondisi tersebut, pengetahuan mengenai tanaman obat lokal dapat menjadi salah satu bentuk mitigasi awal yang melengkapi keterampilan dasar keselamatan pendakian,” ujar Kepala Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS Surakarta.

Menurut Dr. Anang melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai aspek etnobotani dan pemanfaatan tanaman obat, tetapi juga didorong untuk memahami pentingnya konservasi keanekaragaman hayati sebagai bagian dari sistem mitigasi risiko berbasis ekosistem.Pemanfaatan tanaman obat diarahkan untuk dilakukan secara bijaksana, terbatas, dan tidak merusak populasi alami sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Kegiatan ini adalah kolaborasi antara Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS dengan Divisi Lingkungan Hidup Gopala Valentara, komunitas pendaki serta sukarelawan konservasi yang menunjukkan bahwa penguatan ketahanan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan isu keamanan konvensional, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas komunitas dalam menghadapi berbagai risiko di lingkungan alam. Pendekatan ini menjadi bagian dari pengembangan konsep keamanan manusia (human security) yang menempatkan keselamatan individu, kesiapsiagaan komunitas, dan keberlanjutan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling mendukung.

“Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, organisasi pecinta alam, pemerintah, dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu membangun komunitas pendaki yang lebih siap menghadapi kondisi darurat, memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, serta mampu memanfaatkan potensi sumber daya hayati lokal secara bertanggung jawab,” papar Dr. Anang Setiyawan, SH,MH yang selaku Kepala Pusat Studi Terorisme dan Radikalisme UNS Surakarta. (ist/***)