Fokus Jateng-BOYOLALI,-Kenaikan harga plastik kemasan hingga mencapai 70 persen per April 2026, membuat para pelaku rumahan kian terhimpit di antara biaya produksi yang membengkak, sementara daya beli masyarakat masih cenderung stagnan.
Seperti yang dialami produsen tempe di Boyolali, mereka harus berpikir keras, Selain persoalan harga kedelai impor yang terus melambung, kini mereka dihimpit kenaikan harga plastik.
Kondisi ini memaksa para produsen melakukan siasat darurat agar tidak gulung tikar, yakni dengan memperkecil ukuran produksi demi menjaga harga tetap terjangkau di tangan konsumen.
“Kenaikan ini sudah terjadi sekitar 10 hari. Untuk menyiasatinya, ya ukurannya dikurangi. Yang sebelumnya panjang menjadi pendek, tapi harga tetap. Contohnya yang harga Rp2.500, tadinya panjang 15 cm sekarang jadi 13 cm. Lalu yang Rp5.000, dari 27 cm menjadi 25 cm,” ujar Subandi salah seorang perajin tempe di Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono. Rabu 8 April 2026.
Selain kedelai, beban biaya produksi kian berat menyusul kenaikan harga plastik jenis polypropylene. Subandi menjelaskan bahwa satu rol plastik yang sebelumnya seharga Rp58.000, kini melonjak drastis menjadi Rp92.000.
“Plastik ini kan bahannya impor juga. Polipropilene itu kebanyakan dari negara Timur Tengah dan merupakan turunan dari minyak. Jadi setiap ada gejolak harga minyak, harga plastik pasti ikut naik,” tambahnya.
Menurut Subandi, kondisi ini merata dirasakan oleh rekan sejawatnya yang kini terancam berhenti produksi kecuali jika ada pesanan besar.
“Iya banyak terdampak juga bahkan semua rekan pada ngeluh dari plastik, kedelai juga ya, kalau situasi gini terus bisa tetap bertahan atau enggak. Bisa-bisa yang ada malah gulung tikar,” katanya.
Saat ini, mereka hanya berharap adanya intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga bahan baku agar industri skala rumahan ini bisa bertahan. ( yull/**)
