Oleh: Bambang Dwi Harimurti
Mahasiswa Program Studi Manajemen Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Fokus Jateng -SRAGEN — Arus globalisasi dan digitalisasi ekonomi kini bergerak begitu masif, mengubah lanskap transaksi dari konvensional menjadi serba digital (cashless). Namun, penetrasi teknologi finansial ini sering kali menemui hambatan di tingkat akar rumput. Berangkat dari keresahan akademik tersebut, Bambang Dwi Harimurti, mahasiswa Program Studi Manajemen Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) dengan NPM 23200260, menginisiasi program kerja strategis bertajuk “Sosialisasi dan Edukasi Penggunaan E-Money/E-Wallet dan QRIS Bagi Warung dan UMKM di Desa Jati”. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Jati, Kecamatan, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.
Pelaksanaan program ini dilatarbelakangi oleh peran krusial warung kelontong dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pilar utama penggerak ekonomi pedesaan. Di tengah dinamika pasar yang menuntut kecepatan dan efisiensi, pelaku usaha lokal di Desa Jati dinilai perlu segera beradaptasi agar tidak tertinggal oleh zaman.
Urgensi Digitalisasi: Mengapa Warung dan UMKM Desa Jati Harus Beralih ke QRIS?
Dalam pemaparan materinya, Bambang menekankan bahwa adopsi sistem pembayaran digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bukan sekadar mengikuti tren gaya hidup modern, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk mendongkrak daya saing bisnis lokal.
Berikut adalah poin-poin krusial mengenai urgensi digitalisasi pembayaran bagi pelaku UMKM di pedesaan:
* Peningkatan Efisiensi Transaksi: Penggunaan QRIS memangkas waktu transaksi secara signifikan, di mana pembeli cukup memindai kode tanpa harus menunggu uang kembalian fisik, terutama saat ketersediaan uang pecahan kecil menipis.
* Transparansi dan Pencatatan Keuangan Otomatis: Sistem pembayaran digital secara otomatis merekam setiap transaksi yang masuk ke dalam riwayat aplikasi, memudahkan pemilik warung memantau arus kas harian secara akurat dan menghindari risiko kebocoran finansial.
* Mitigasi Risiko Keamanan: Bertransaksi secara non-tunai menekan peredaran uang palsu di lingkungan masyarakat serta meminimalkan risiko penyimpanan uang tunai dalam jumlah besar di tempat usaha.
* Memperluas Pangsa Pasar: Dengan menyediakan opsi pembayaran cashless, warung dan UMKM di Desa Jati dapat menjangkau konsumen dari berbagai kalangan—terutama generasi muda dan pendatang—yang terbiasa berbelanja tanpa membawa uang tunai.
Metode Pendekatan “Learning by Doing” dan Antusiasme Warga
Agar materi edukasi dapat diserap secara maksimal oleh masyarakat dari beragam latar belakang usia, Bambang merancang metode sosialisasi yang interaktif dan aplikatif. Dengan menggunakan perangkat laptop sebagai media peraga utama, program ini dikemas melalui pendekatan learning by doing atau belajar sambil praktik langsung.
Para pemilik warung dan pelaku UMKM dibimbing secara sabar mulai dari tahap fundamental, seperti pengenalan berbagai jenis aplikasi dompet digital (e-wallet) yang legal di Indonesia, prosedur verifikasi identitas akun (KYC), hingga simulasi tata cara membaca notifikasi pembayaran yang masuk. Selain itu, warga juga diberikan pemahaman teknis mengenai tata cara pendaftaran QRIS mandiri hingga pencetakan barcode agar dapat langsung dipajang di etalase toko masing-masing.
Sesi diskusi interaktif mencairkan suasana, di mana para pelaku usaha antusias melontarkan pertanyaan seputar keamanan data, biaya administrasi, hingga proses pencairan dana hasil penjualan digital ke rekening bank pribadi mereka. Pendekatan persuasif ini berhasil mengikis keraguan warga bahwa teknologi finansial bukanlah hal yang rumit atau menakutkan untuk diadopsi.
Kontribusi Nyata Mahasiswa untuk Pembangunan Ekonomi Desa
Pelaksanaan program KKN ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Kehadiran mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UNISRI di tengah-tengah warga Desa Jati dinilai memberikan warna baru dan solusi nyata atas tantangan bisnis yang dihadapi para pelaku usaha kecil.
Melalui program ini, Bambang Dwi Harimurti berharap agar warung kelontong dan UMKM di Desa Jati mampu bertransformasi menjadi unit usaha yang lebih modern, adaptif, dan mandiri secara finansial.
“Digitalisasi ekonomi bukan lagi pilihan eksklusif, melainkan prasyarat mutlak agar UMKM lokal bisa naik kelas. Dengan membekali para pelaku usaha di Desa Jati sistem pembayaran QRIS, kita sedang merintis fondasi ekonomi kerakyatan yang inklusif, tangguh, dan siap menghadapi tantangan pasar di era digital,” ujar Bambang.
Inisiatif ini menjadi bukti konkret bahwa sinergi antara dunia akademik dan masyarakat pedesaan mampu melahirkan gerakan perubahan yang konstruktif. Dari Desa Jati, Kabupaten Sragen, langkah kecil mahasiswa KKN UNISRI ini diharapkan menjadi inspirasi bagi gerakan digitalisasi warung tradisional secara lebih luas di Indonesia. ( ist/*”)
