Denny Sumargo Bawa Kisah Nyata Fanny Kondoh ke Layar Lebar

Denny Sumargo, Fanny Kondoh, dan Caitlin Haiderman menyapa para penggemar dan warga Kota Surakarta atau Solo dalam Meet and Greet di Solo Paragon Mall, Senin, 17 Agustus 2026. (Istimewa. /*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng- SOLO- Film Baby Udon membawa kisah nyata content creator, Fanny Kondoh ke layar lebar. Cerita tentang cinta, perjuangan memiliki anak, hingga kehilangan itu diperankan oleh Denny Sumargo dan Caitlin Halderman dalam film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 3 September 2026.

Dalam agenda roadshow di Solo Paragon XXI, Surakarta, Senin, 17 Agustus 2026, Denny yang juga menjadi produser film tersebut mengatakan kisah Fanny terlalu berharga untuk hanya menjadi cerita yang beredar di kalangan terbatas. Menurut dia, perjalanan hidup Fanny memiliki kedekatan dengan pengalaman banyak orang sehingga layak didokumentasikan dalam bentuk film.

“Ini satu cerita yang kalau enggak difilmkan, kayaknya kita semua akan menyesali bahwa ada satu cerita sebagus ini yang tidak menjadi sebuah dokumentasi cerita film,” kata Denny saat wawancara dengan wartawan seusai pemutaran film di Bioskop Grand XXI Solo Paragon Mall.

Denny, Caitlin, dan Fanny juga menyapa para penggemar dan warga Kota Solo dalam sesi Meet and Greet.

Kisah dalam film itu bermula dari keinginan Fanny menikah dengan pria kaya. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menikah dengan pria berkebangsaan Jepang. Keduanya sempat menghadapi persoalan perbedaan agama. Sang suami akhirnya memilih menjadi mualaf dan keduanya melanjutkan kehidupan bersama.

Persoalan justru muncul setelah pernikahan. Mereka menghadapi kesulitan memiliki anak hingga akhirnya mendapatkan kehamilan, tetapi kemudian Fanny mengalami keguguran. Saat berusaha kembali memiliki anak, sang suami didiagnosis mengidap kanker.

Di tengah kondisi tersebut, Fanny berusaha mendampingi suaminya. Ia juga melakukan refleksi keagamaan dan memilih mengenakan hijab. Namun perjuangan itu berakhir dengan kepergian sang suami. Fanny kemudian mendapatkan seorang anak yang menjadi harapan sekaligus titipan dalam melanjutkan kehidupannya.

Bagi Denny, tantangan terbesar bukan sekadar memindahkan kisah nyata ke dalam skenario, melainkan membuatnya tetap memiliki emosi dan kehidupan ketika menjadi film. Ia bahkan memilih mencukur rambutnya hingga botak untuk memerankan karakter Hajime, dan menggunakan rambut palsu atau prosthetics.

“Produser itu bagaimana mengemas satu cerita true story tapi bisa punya jiwa dan punya nyawa. Banyak film drama yang bagus, tapi tidak semua akhirnya punya jiwa dan punya nyawa. Itu tantangan paling besarnya,” ujarnya.

Caitlin Halderman, pemeran Fanny, juga menganggap Baby Udon sebagai salah satu film tersulit yang pernah ia jalani. Berbeda dari karakter dalam film-film remaja yang selama ini lebih sering ia mainkan, karakter Fanny menuntutnya memainkan emosi yang berlapis.

“Ini film terberat aku. Layer-nya sangat banyak mengingat kehidupan Kak Fani yang sangat amat berat,” kata Caitlin.

“Aku harus sampaikan semua rasa yang Kak Fanny rasakan selama sembilan tahun ini aku jadikan satu di film ini,” ujarnya menambahkan.

Bagi Fanny, melihat kisah hidupnya kembali dalam bentuk film menghadirkan pengalaman emosional tersendiri. Ia mengaku sempat berusaha menahan tangis ketika pertama kali menyaksikan hasil film tersebut, tetapi akting Denny dan Caitlin membuatnya kembali larut dalam ingatan masa lalu.

“Awalnya aku ngerasa kayak enggak mau nangis. Cuma karena Koko Densu dan Caitlin perannya bagus banget, akhirnya menangis,” ujar Fanny.

Fanny juga menyebut proses pembuatan film tersebut berlangsung lebih dari setahun. Ia memilih rumah produksi milik Denny Sumargo karena merasa film tersebut tidak hanya dibuat untuk mengangkat kisah yang pernah viral, tetapi sebagai warisan bagi anaknya.

“Aku merasa cuma Koko Densu dan semua cast yang bisa membuat cerita ini bukan cerita sekadar viral, tapi sebuah karya yang dari hati. Karena ini lebih dari sekadar film, tapi legacy buat anakku, Kaskas,” katanya.

Meski diangkat dari kisah nyata, Baby Udon tetap memiliki sejumlah pengembangan untuk kebutuhan dramatik film. Denny mengatakan beberapa kejadian dan lokasi mengalami penyesuaian, termasuk pemindahan salah satu lokasi dari pantai ke kawasan Rawa Pening, Semarang.

Namun sejumlah bagian penting dalam perjalanan hidup Fanny tetap dipertahankan. Adegan setelah menikah ketika pasangan tersebut memilih makam, perjuangan mendapatkan anak, hingga keguguran merupakan bagian dari kisah nyata yang dialami Fanny.

“Semua itu benar. Habis nikah memilih makam, terus pengin punya anak enggak dapat-dapat, terus keguguran, itu semua benar,” kata Denny.

Fanny berharap film tersebut dapat menjadi ruang bagi penonton untuk menemukan sesuatu yang mungkin berkaitan dengan pengalaman mereka sendiri. Menurut dia, cerita Baby Udon tidak hanya berbicara tentang perjuangan pasangan mendapatkan keturunan, tetapi juga kanker, hubungan, kepercayaan terhadap pasangan, dan perjuangan menjalani kehidupan.

“Film ini relate ke banyak benang. Dari pejuang kanker, pejuang garis dua, pejuang kehidupan, trust issue sama pasangan. Mampir saja ke medium rasa ini karena kalian akan membawa sesuatu ketika pulang, entah itu jawaban ataupun harapan,” ujarnya.

Denny pun mengajak penonton menyaksikan film tersebut di bioskop mulai 3 September 2026. Ia berharap kisah Fanny tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi turut menyampaikan harapan kepada penonton yang mungkin sedang menghadapi persoalan serupa.

“Catat di kalender kalian, 3 September. Pokoknya datang nonton,” kata Denny. (*Thia/**)