Belajar Kesederhanaan dari Pohon Sukun: Pesan Kemanusiaan Demokrat Karanganyar Jelang HUT Partai

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR,  = Di tengah keriuhan persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrat, ada sebuah pemandangan berbeda yang menyejukkan hati di Karanganyar. Ketua DPC Partai Demokrat Karanganyar, Tri Haryadi, memilih menanam bibit pohon sukun sebagai bentuk aksi nyata kepedulian lingkungan dan keberpihakan pada masyarakat bawah.

Aksi penanaman ini menyimpan makna filosofis yang sangat mendalam bagi partai berlogo bintang mercy tersebut. Pohon sukun sering kali dipandang sebelah mata dan tumbuh di sudut-sudut pekarangan yang terpinggirkan, namun ketangguhannya justru memberi manfaat yang tidak terhingga bagi banyak orang.

“Pohon sukun itu unik. Kehadirannya sering dianggap biasa dan tumbuh terpinggirkan di pelosok desa, tetapi ia tidak pernah berhenti memberi manfaat. Buahnya melimpah, kenyang mengenyangkan, dan akarnya mampu mengikat air bumi dengan sangat kuat,” ungkap Tri Haryadi saat menjelaskan alasan pemilihan tanaman tersebut.

Filosofi Kesederhanaan dan Pengabdian

Narasi keberadaan pohon sukun mewakili nilai-nilai perjuangan yang ingin ditanamkan kader partai kepada masyarakat:

  • Ketahanan dan Kesederhanaan: Sukun mampu tumbuh subur tanpa perawatan yang rumit, melambangkan karakter rakyat kecil yang tangguh bertahan menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
  • Manfaat Tanpa Batas: Dari daun yang kerap dijadikan herbal, kayu yang menopang peneduh, hingga buah karbohidrat tinggi yang menyelamatkan ketahanan pangan—sukun adalah simbol pengabdian yang sunyi namun mengenyangkan.
  • Pengikat Akar Sosial: Akar pohon sukun yang menghujam dalam menahan erosi, bagaikan semangat gotong royong yang menjaga kerukunan serta solidaritas warga di tingkat tapak.

Melalui momen menjelang HUT partai ini, Demokrat Karanganyar ingin menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat, terutama mereka yang merasa kurang tersentuh perhatian. Penanaman pohon sukun bukan sekadar prosesi penghijauan seremonial, melainkan pengingat moral: bahwa politik sejatinya adalah tentang menebar manfaat yang nyata bagi sesama, sekecil apa pun peran yang dimiliki. ( bre )