Oleh : Cynthia Novita Ariyanti
Mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Fokus Jateng-SRAGEN — Tumpukan tutup botol plastik yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah, kini punya cerita baru di Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bertajuk “DadiKriya: Saka Sampah Dadi Karya”, limbah yang kerap dianggap tak bernilai itu diolah menjadi kerajinan tangan kreatif yang berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Program ini digagas oleh Cynthia Novita Ariyanti, mahasiswa KKN dari Universitas Slamet Riyadi Surakarta yang diterjunkan di Desa Karungan. Sasaran utamanya adalah persoalan klasik yang dihadapi hampir setiap desa: sampah plastik, khususnya tutup botol kemasan minuman, yang volumenya terus bertambah namun minim penanganan lanjutan.
*Berangkat dari Persoalan Sampah yang Tak Kunjung Tuntas*
Selama ini, pengelolaan sampah plastik di Desa Karungan lebih banyak berhenti pada tahap pengumpulan. Tutup botol plastik, yang secara material sebenarnya masih memiliki nilai jual jika didaur ulang, kerap tercampur dengan sampah lain dan berakhir di tempat pembuangan tanpa pengolahan lebih lanjut.
Kondisi ini yang kemudian mendorong lahirnya gagasan program DadiKriya, sebuah ungkapan berbahasa Jawa yang bermakna “dari sampah menjadi karya”. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan bersih-bersih lingkungan, melainkan sebagai upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat desa, di mana limbah tidak hanya dikelola, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.
*Edukasi dan Pelatihan Bersama Ibu-Ibu PKK dan Bank Sampah*
Program dimulai dengan tahap edukasi mengenai bahaya penumpukan sampah plastik serta potensi ekonominya jika dikelola dengan tepat. Sosialisasi ini dilakukan secara khusus bersama ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan pengurus Bank Sampah Desa Karungan, kelompok yang selama ini memang aktif dalam kegiatan kebersihan dan pengelolaan sampah di tingkat desa.
Setelah tahap edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan teknis pengolahan tutup botol plastik. Ibu-ibu PKK diajarkan proses sederhana namun aplikatif, mulai dari pengumpulan dan penyortiran tutup botol berdasarkan warna dan jenis, pembersihan, hingga proses perakitan menjadi berbagai bentuk kerajinan tangan.
Cynthia Novita Ariyanti, salah satu mahasiswa KKN, bersama rekan-rekan satu timnya turut mendampingi jalannya pelatihan ini, dengan pendekatan langsung agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan sendiri proses produksinya secara mandiri.
*Inovasi: Dari Sampah ke Karya*
Hasil dari pelatihan ini kemudian dikembangkan menjadi sejumlah produk kreatif, seperti gantungan kunci. Desain produk dibuat agar memiliki nilai estetika sekaligus mencerminkan sentuhan khas buatan tangan warga Desa Karungan.
Pemilihan tutup botol plastik sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Material ini mudah ditemukan, memiliki warna-warni yang menarik secara visual, serta relatif mudah diolah dengan peralatan sederhana sehingga cocok dikembangkan sebagai kegiatan produktif berskala rumahan.
*Dukungan Pemerintah Desa dan Bank Sampah*
Bank Sampah desa Karungan berperan dalam sistem pengumpulan dan penyortiran limbah tutup botol dari warga sebelum masuk ke tahap produksi.
Ibu-ibu PKK menjadi kelompok utama yang terlibat langsung dalam proses edukasi, pelatihan, hingga produksi kerajinan ini. Keterlibatan mereka diharapkan menjadi modal awal agar keterampilan mengolah limbah tutup botol plastik dapat terus dipraktikkan secara mandiri oleh warga, meski masa KKN telah berakhir.
*Manfaat Ekonomi dan Lingkungan*
Program ini memberi dampak ganda: dari sisi lingkungan, program ini membantu mengurangi volume sampah tutup botol plastik yang selama ini tak terkelola dengan baik. Dari sisi ekonomi, keterampilan mengolah limbah menjadi kerajinan tangan berpotensi membuka peluang pendapatan tambahan bagi ibu-ibu PKK dan warga Desa Karungan, meski hingga kini program belum masuk pada tahap pemasaran maupun distribusi produk secara komersial.
Namun diharapkan program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial selama masa KKN, melainkan dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Karungan ke depannya.
Program DadiKriya menjadi bukti bahwa persoalan sampah tidak melulu harus diselesaikan dengan cara konvensional. Dengan sentuhan edukasi, pelatihan, dan kolaborasi antara mahasiswa KKN, Bank Sampah, dan ibu-ibu PKK, limbah tutup botol plastik yang semula dianggap tak berguna kini berubah menjadi karya kreatif yang membawa harapan baru. Bahwa sampah bukan lagi sekadar masalah, melainkan juga peluang. Bagi warga Desa Karungan, cara pandang itu kini perlahan berubah: dari sesuatu yang dibuang, menjadi sesuatu yang dijaga dan diolah untuk masa depan ekonomi desa mereka.( ist/**).
