Kekeringan Parah di Wonosegoro, Warga Gali Dasar Sungai Demi Dapatkan Air

BPBD Distribusi air bersih di daerah kekeringan (Dok/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng – BOYOLALI,- Musim kemarau tahun ini memicu kekeringan di Boyolali. Sebagian warga bahkan sampai menggali dasar sungai yang mengering demi mendapatkan air untuk mencukupi kebutuhan harian.

Desa Bojong, tepatnya di Dukuh Bogor Kopen, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, merupakan salah satu wilayah yang mengalami krisis air cukup parah. Warga terpaksa memanfaatkan dasar sungai yang berlokasi di desa mereka. Sungai yang mengering digali dasarnya untuk mendapatkan air. Lubang dibuat dengan diameter 50 cm, dengan kedalaman tak sampai satu meter.

Warga menyebut lubang-lubang di dasar sungai tersebut sebagai belik. Dari sanalah warga menggantungkan pasokan air untuk kebutuhan harian mereka.

“Iya ini (air) untuk mandi,” jelas warga setempat Sutini (50) sembari menimba air dari lubang kecil yang berisi air keruh, lalu menuangkannya ke dalam 2 jerigen plastik besar berkapasitas sekitar 19 liter. Kamis 6 Agustus 2026.

Terpisah, Camat Wonosegoro, Ragil Pambudi mengungkapkan, dari total 11 desa yang berada di wilayah Kecamatan Wonosegoro, dampak kekeringan akibat musim kemarau saat ini terjadi di 3 desa. Yakni Desa Kauman, Desa Bojong, Desa Guwo.

“Dampak kekeringan tidak dialami oleh seluruh wilayah desa secara menyeluruh, melainkan terpusat di beberapa dukuh,” katanya.

Menurut Ragil, awal penurunan pasokan air terjadi sejak minggu ketiga bulan Juli atau sekitar tanggal 20-an. Sejak saat itu sumber air dan sumur warga di daerah rawan mulai mengering.

“Pemerintah Kecamatan terus berkoordinasi secara intensif dengan BPBD untuk mendistribusikan bantuan air bersih atau dropping air. Khusus untuk Desa Bojong, hingga saat ini telah disalurkan sebanyak 22 tangki air bersih atau sekitar 116 ribu liter,” ungkapnya.

Dijelaskan, sebagai langkah jangka pendek, yakni menjaga kelancaran koordinasi penyaluran bantuan air bersih, seperti dropping tangki bersama BPBD untuk memenuhi kebutuhan harian warga terdampak.

“Untuk jangka menengah dan panjang, yakni pembangunan pembangunan sumur bor. Karena terbukti sangat efektif menanggulangi krisis air bersih. Seperti di Desa Kauman, wilayah yang telah memiliki sarana sumur bor kini terbebas dari ancaman kekeringan,” paparnya.

Hanya saja, untuk wilayah yang memiliki kendala geografis seperti tidak tersedianya cekungan air tanah, berdasarkan kajian ahli solusi utama yang diusulkan adalah perluasan jaringan perpipaan dari PDAM.

Sebelumnya, Plt Kepala BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo menjelaskan upaya penanganan bencana kekeringan dan penyaluran air bersih. Wilayah penanganan pendistribusian dropping air bersih mencakup Kecamatan Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamodra, Tamansari, Musuk, Selo, Cepogo, dan sebagian wilayah Andong. ( yull/**)