Fokus Jateng- SURAKARTA-Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat resmi membuka rangkaian tradisi Sekaten Tahun Be 1960/2026 di Kompleks Pagelaran Keraton, Minggu, 2 Agustus 2026. Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu kembali digelar sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus upaya menjaga warisan budaya Jawa yang sarat nilai religius.
Pembukaan diawali dengan prosesi selamatan sebagai ungkapan syukur, kemudian dilanjutkan seremoni yang menandai dimulainya seluruh rangkaian Sekaten sepanjang Agustus 2026. Selain prosesi adat, masyarakat juga dapat menikmati Pasar Malam Sekaten yang digelar di kawasan Alun-alun Utara dan halaman Masjid Agung Surakarta.
Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan Sekaten tidak bisa dipisahkan dari kawasan Alun-alun Utara yang sejak berdirinya Keraton menjadi pusat pelaksanaan tradisi tersebut.
“Sejak berdirinya Keraton, Alun-alun Utara selalu menjadi pusat penyelenggaraan Sekaten,” ujar Gusti Moeng.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa Sekaten bukan sekadar identik dengan pasar malam. Di balik kemeriahannya terdapat berbagai prosesi adat yang menjadi media syiar Islam sekaligus mengandung nilai sejarah dan filosofi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal senada disampaikan Ketua Harian Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi. Ia menegaskan inti Sekaten justru terletak pada rangkaian upacara adat, mulai dari Miyos Gangsa Sekaten hingga Grebeg Maulud atau Gunungan Sekaten.
“Sekaten itu mesti dipahami, tidak hanya perayaannya, tetapi juga ada acara inti berupa Miyos Gangsa Sekaten hingga rangkaian Gunungan Sekaten,” katanya.
Rangkaian Sekaten 2026 akan berlangsung hingga akhir Agustus. Setelah pembukaan, agenda dilanjutkan Jamasan Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu pada 12 Agustus, kemudian Miyosaken Gangsa Sekaten pada 19 Agustus yang mengiring gamelan pusaka menuju Bangsal Pagongan Masjid Agung Surakarta.
Gamelan pusaka akan dibunyikan setiap hari hingga 25 Agustus sebagai bagian dari tradisi syiar Islam. Puncak perayaan digelar pada 26 Agustus melalui prosesi Ngonduraken Gangsa Sekaten yang disusul Hajad Dalem Grebeg Maulud atau Gunungan Sekaten, dengan arak-arakan gunungan menuju Masjid Agung Surakarta sebagai simbol rasa syukur, berkah, dan kebersamaan.
Di sisi lain, Pasar Malam Sekaten telah berlangsung sejak 1 Agustus dan akan berakhir pada 30 Agustus 2026. Beragam wahana permainan, kuliner, produk UMKM, hingga perdagangan tradisional dihadirkan untuk menyemarakkan tradisi sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. (*Thia/**).
