Fokus Jateng – BOYOLALI,-Tradisi Saparan sebaran apem kukus keong mas di Alun-alun Pengging, Kecamatan Banyudono, Jumat siang 7 Agustus 2026 berlangsung meriah. Sekitar 30.000 apem kukus keong mas itu disebar dalam tradisi tahunan menyambut berakhirnya bulan safar atau biasa disebut saparan.
Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini penyebaran apem hanya dipusatkan di satu panggung utama di Alun-alun Pengging. Sementara pada tahun lalu, tradisi tersebut digelar di dua titik, yakni panggung depan Masjid Cipto Mulyo dan panggung di Alun-alun Pengging.
Meski demikian, antusiasme warga tidak surut. Begitu aba-aba sebar dimulai, warga langsung berebut maju untuk mendapatkan apem Keong Mas yang menjadi simbol kemakmuran dan tolak bala.
“Biar lebih rukun (jika satu panggung), rasanya lebih menyatu, dengan masyarakat” kata Wakil Bupati Boyolali, Dwi Fajar Nirwana usai acara.
kegiatan tahunan ini salah satunya untuk bersedekah kepada seluruh warga, serta mohon ampunan kepada tuhan Yang Maha Esa, khususnya warga disekitar Wilayah Pengging.
“Makna Sebar Apem Keong Mas sendiri untuk mempererat kerukunan dan persaudaraan antar masyarakat, serta menggerakkan perekonomian di Banyudono khususnya,” imbuhnya.
Turut hadir Sri Susuhunan Pakubuwana XIV Hangabehi, Bupati Boyolali, serta jajaran Forkopimda.
Sebagaimana diketahui, Tradisi Sebaran Apem Kukus Keong Mas Bulan Sapar di Boyolali ini sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda pada 2020.
Menurut Pengamat budaya Boyolali, Kusworo S Rahadyan, sebaran apem ini merupakan tradisi warisan dari Raden Ngabehi Yosodipuro II. Saat itu, muncul setelah ada kekhawatiran serangan hama keong mas yang menyerang tanaman warga, Pujangga setempat saat itu, Yosodipuro II pada 1830-an silam kemudian menginisiasi tradisi ini. Pujangga itu membuat apem kukus dengan dibungkus janur kuning.
” Sang Pujangga akan memimpin doa dan selamatan di Masjid Cipto Mulyo. Setelahnya, apem kukus berbalut janur itu di dibagikan ke masyarakat miskin dan petani,” kata Kusworo.
“Bagi masyarakat yang mendapatkan apem ini dipercaya akan mendapat berkah rejeki, tanah sawah subur. Sehingga mereka rela berdesakan di kawasan masjid, menunggu sebaran apem untuk mendapatkan berkah,” pungkasnya. (yull/**)
