FOKUSJATENG.COM KARANGANYAR – Di balik rimbunnya pepohonan wilayah Mojoroto, Mojogedang, tersimpan sebuah situs yang tak hanya kental dengan nilai sejarah, tetapi juga diselimuti aura metafisika yang kuat. Sendang Bejen, sebuah sumber mata air yang tenang, kini semakin menarik perhatian publik bukan sekadar sebagai tempat wisata religi, melainkan karena kisah-kisah “sisi lain” yang turun-temurun diceritakan oleh para sesepuh desa.
Jejak Gerilya Pangeran Sambernyawa
Jauh sebelum dikenal sebagai tempat meditasi, Sendang Bejen diyakini sebagai saksi bisu perjuangan Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Konon, di bawah keteduhan area ini, sang pangeran kerap menggelar rapat rahasia bersama para panglimanya.
Taktik perang gerilya yang masyhur—menyerang tanpa jejak dan menghilang di kegelapan hutan—dirumuskan di sini. Strategi menjebak tentara VOC ini menjadikan Sendang Bejen memiliki nilai historis sebagai “markas tersembunyi” yang penuh wibawa.
Sosok Penunggu: Ular, Kuda Putih, dan Sang Kakek Berjanggut
Namun, daya tarik Sendang Bejen tak berhenti pada sejarah formal. Cerita tutur dari para orang tua di Mojoroto mengungkap dimensi lain yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus takjub. Sebagian masyarakat meyakini adanya entitas gaib yang menjaga kemurnian sendang ini.
Sosok Ular Besar dan Kuda Putih sering disebut sebagai penjaga utama. Keduanya bukanlah binatang biasa; mereka adalah makhluk yang hanya menampakkan diri kepada orang-orang dengan “kepekaan” tertentu. Tak hanya itu, ada pula sosok yang dianggap sebagai penunggu paling tua: seorang kakek bertubuh tegap, berwibawa, dengan janggut putih yang menjuntai.
“Hanya orang-orang pilihan yang biasanya diberi kesempatan melihat. Aura di sekeliling pancuran itu memang terasa berbeda—teduh tapi sangat berwibawa,” ujar salah satu warga setempat yang memahami seluk-beluk sendang tersebut.
Ritual Malam Selasa dan Jumat Kliwon
Meski kompleks Sendang Bejen tidak terlalu luas, suasana rimbun dan sejuk di sana menciptakan atmosfir yang menggoda siapa pun untuk melakukan tetirah atau meditasi. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, geliat pengunjung di lokasi ini meningkat drastis.
Hampir setiap malam, selalu ada peziarah yang datang, terutama dari luar Kabupaten Karanganyar. Puncaknya terjadi pada Malam Selasa dan Malam Jumat. Ritual yang lazim dilakukan adalah mandi di pancuran keramat, diikuti dengan doa dan zikir di pelataran sekitar sendang, tepat di luar cungkup Joglo.
Bagi para pencari ketenangan batin, Sendang Bejen menawarkan kombinasi yang unik: kesegaran air pegunungan yang jernih secara logika, serta kedalaman spiritualitas yang mistis secara rasa. Apakah Anda termasuk salah satu “orang pilihan” yang mampu merasakan kehadiran para penjaga mata air ini? Pengalaman batin di Sendang Bejen menanti untuk dibuktikan sendiri. ( bre suroto )
