Soroti Celah Klasik PPDB, Jhon Eyel Minta Pemerintah Tegas dan Orang Tua Tak Paksakan Ego

Foto : ilustrasi pendukung

FOKUSJATENG.COM, OPINI, KARANGANYAR – Karut-marut pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP dan SMA kembali menjadi sorotan tajam. Isu klasik mengenai keberadaan “siswa titipan” dan manipulasi jalur masuk dinilai masih menjadi celah lebar yang mencederai rasa keadilan di dunia pendidikan.

Pengamat praktisi pendidikan setempat, Jhon Enyel, menegaskan bahwa fenomena “pintu belakang” ini merupakan rapuhnya komitmen transparansi yang terus berulang setiap tahunnya. Menurutnya, sistem zonasi maupun jalur prestasi yang semula digagas untuk pemerataan, kerap kali kalah oleh intervensi oknum dan ego sektoral.

 

Celah PPDB dan Tuntutan Keadilan Pemerintah

Jhon Enyel menyoroti bahwa celah manipulasi seperti migrasi domisili lewat Kartu Keluarga (KK) “dadakan” hingga titipan dari pihak-pihak berpengaruh, harus segera dihentikan dengan tindakan konkret dari pemerintah.

“Pemerintah harus adil dan tegas. Hak pendidikan ini milik mereka yang benar-benar berhak secara regulasi, bukan yang punya akses kekuasaan atau finansial. Dinas Pendidikan dan lembaga pengawas seperti Ombudsman harus berani melakukan audit riil secara *real-time*,” ujar Jhon Enyel saat diwawancarai, Minggu (24/5/2026).

Ia menambahkan, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar untuk meminimalisir praktik lancung ini. Sanksi tegas berupa pencopotan jabatan bagi kepala sekolah yang terbukti menerima titipan, serta pembatalan status siswa yang masuk secara ilegal, dinilai bisa memberikan efek jera.

“Namun, solusi jangka panjangnya adalah pemerataan kualitas. Selama fasilitas, anggaran, dan mutu guru antar-sekolah belum setara, selama itu pula perburuan status ‘sekolah favorit’ dengan segala cara akan terus terjadi,” imbuhnya.

 

Sekolah Favorit Bukan Jaminan, Kecerdasan Ada di Tangan Anak

Di tengah sistem yang masih terus dibenahi, Jhon Eyel memberikan pesan motivasi yang kuat kepada para calon siswa baru agar tidak berkecil hati jika gagal menembus sekolah yang selama ini dianggap favorit.

Ia mengingatkan bahwa label mentereng sebuah sekolah sama sekali tidak menjamin perkembangan kecerdasan maupun kesuksesan masa depan seorang anak.

“Untuk anak-anakku yang sedang berjuang, ingatlah bahwa sekolah favorit itu hanyalah sebuah bangunan dan label. Label tidak bisa otomatis mentransfer kepintaran ke dalam otak kalian. Kecerdasan, kepintaran, dan kesuksesan itu yang menentukan adalah diri kalian sendiri, bukan nama besar di gerbang sekolah,” tegas Jhon.

Menurutnya, banyak tokoh besar dan orang sukses yang lahir dari sekolah-sekolah biasa. Kunci utamanya ada pada ketangguhan mental, rasa ingin tahu, dan konsistensi dalam belajar.

“Jika kalian adalah permata, di mana pun kalian ditempatkan, kalian akan tetap berkilau. Jadilah bintang di sekolah mana pun kalian diterima nanti,” pesannya memotivasi.

 

Imbauan untuk Orang Tua: Setop Paksakan Ego

Lebih lanjut, Jhon Eyel juga memberikan imbauan mendalam kepada para orang tua murid. Ia meminta orang tua untuk merefleksikan kembali ambisi mereka dan tidak memaksakan kehendak agar anak harus masuk ke sekolah favorit, apalagi jika harus menempuh cara-cara yang tidak benar.

“Memaksakan anak masuk sekolah tertentu dengan cara menitipkan atau memanipulasi data adalah bentuk pendidikan mental yang salah sejak dini. Kita secara tidak sadar mengajari anak bahwa kesuksesan bisa dibeli tanpa kerja keras,” tutur Jhon.

Ia mengingatkan bahwa memaksakan kehendak di luar batas kemampuan akademik atau mental anak justru berisiko memicu stres dan depresi pada anak. Tugas utama orang tua adalah mendukung dan memfasilitasi proses belajar, bukan menuntut label sekolahnya.

“Dukung prosesnya, sayangi mental anak kalian. Anak yang mendapatkan dukungan penuh dan kasih sayang di rumah akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan sukses, tidak peduli apa pun nama sekolah tempat mereka menuntut ilmu,” pungkasnya. ( bre )