fokusjateng BOYOLALI, – Seiring musim kemarau tahun ini diperkirakan berbarengan dengan fenomena El-Nino yang memicu cuaca panas ekstrem. BPBD Boyolali pastikan kesiapan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2026 dengan mengintensifkan langkah antisipasi sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Suratno, mengatakan pihaknya saat ini tengah mengantisipasi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Langkah itu berkaca pada musim kemarau 2023 yang juga diwarnai El-Nino dan mencatat banyak kasus Karhutla di sejumlah wilayah Boyolali.
“Saat ini kami mengantisipasi potensi terjadi bencana kebakaran lahan dan hutan. Kami petakan lagi wilayah rawan berdasarkan data 2023,” kata Suratno. Sabtu 25 April 2026.
Data BPBD menyebut Karhutla 2023 di Boyolali terpusat di kawasan Gunung Merbabu dengan posko induk di Mongkrong. Tim menemukan total sekitar 14 titik indikasi, terdiri dari 6 titik api di SRU 1, 5 titik api di SRU 2, dan 3 titik asap di SRU 3.
Lokasi sebaran meliputi jalur Gemawang, Jambong, Kenteng, serta titik rawan tambahan di Dukuh Grogol dan Dukuh Cawang. Faktor penyebab utama adalah kelalaian manusia, salah satunya aktivitas pembakaran.
“Jenis lahan turut memperbesar risiko. Vegetasi bambu cendani di Merbabu memiliki akar yang mudah terbakar seperti gambut, sehingga api cepat meluas,” lanjutnya.
Dijelaskan Karhutla 2023 berdampak langsung ke masyarakat. Putusnya pipa air bersih akibat kebakaran mengganggu pasokan di 2 desa dan 17 dukuh.
Di Desa Ngadirejo, tiga dukuh belum terpenuhi kebutuhan airnya, yakni Margomulyo dengan 154 jiwa, Diwak 104 jiwa, dan Margokaton 235 jiwa. Warga kesulitan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Terkait hal tersebut, BPBD Boyolali mengidentifikasi wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi berdasarkan kondisi cuaca dan jenis lahan. Area Gunung Merbabu, khususnya jalur Gemawang, Jambong, Kenteng, Dukuh Grogol, dan Dukuh Cawang menjadi prioritas pemantauan.
“Secara empiris, kebakaran menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan beban pengeluaran rumah tangga. Jadi mitigasi harus dimulai sejak sekarang,” tegas Suratno.
BPBD mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan dan segera melapor jika menemukan titik api.
( yull/**)
