FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, H. Juliyatmono, M.M., menggelar pertemuan strategis bersama pengurus dan anggota Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) se-Kabupaten Karanganyar, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini fokus pada penguatan kapasitas masyarakat dalam memahami risiko kesehatan jemaah haji.
Dalam acara yang bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat (PKPRIM)”, Juliyatmono hadir bersama narasumber ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Transformasi Paradigma Kesehatan Haji
Dalam sambutannya, Juliyatmono menyampaikan bahwa ibadah haji bukan sekadar kesiapan finansial dan niat, melainkan sangat bergantung pada ketahanan fisik. Ia mendorong para anggota IPHI untuk menjadi agen informasi bagi calon jemaah di wilayah masing-masing.
“Kita ingin jemaah haji asal Karanganyar tidak hanya berangkat dengan penuh semangat, tapi juga pulang dengan sehat dan selamat. Itulah mengapa literasi mengenai mitigasi kesehatan ini sangat krusial,” ujar mantan Bupati Karanganyar dua periode tersebut.
Riset BRIN: Kematian Haji Tertinggi di Periode Pasca-Armuzna
Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Asep Kusnali, S.H., M.E., memaparkan data krusial terkait faktor risiko kematian jemaah haji Indonesia. Berdasarkan riset BRIN, terdapat temuan bahwa waktu kritis kematian jemaah sering terjadi pada periode 10–25 Dzulhijjah atau setelah fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Transformasi yang kita dorong adalah mengubah pola pembinaan dari yang sebelumnya bersifat reaktif-klinis (mengobati yang sakit) menjadi proaktif-fungsional. Artinya, kita fokus pada kesiapan fisik menghadapi aktivitas ibadah yang berat,” jelas Asep di hadapan ratusan anggota IPHI.
Beberapa poin penting mitigasi yang disampaikan BRIN meliputi:
-
Istithaah Kesehatan Paripurna: Pemeriksaan kesehatan harus mengedepankan kualitas kapasitas fungsional tubuh, bukan sekadar kuantitas pemeriksaan.
-
Fokus Periode Kritis: Mitigasi ketat pada awal kedatangan dan pasca-puncak haji.
-
Kesadaran Kolektif: Pentingnya peran keluarga dan tokoh agama untuk tidak memberikan tekanan sosial yang memaksa jemaah dengan risiko tinggi memaksakan diri melakukan ibadah sunnah yang menguras fisik.
Peran IPHI Karanganyar
Juliyatmono mengapresiasi peran IPHI Karanganyar yang selama ini aktif menjaga silaturahmi antar-haji. Melalui sosialisasi bersama BRIN ini, ia berharap IPHI dapat membantu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini sebelum keberangkatan.
“IPHI punya peran moral untuk menjaga kemabruran haji, dan kesehatan adalah modal utama untuk meraih predikat mabrur tersebut. Kolaborasi dengan BRIN ini adalah bukti nyata bahwa kebijakan di DPR RI selalu didasarkan pada data dan riset demi kepentingan masyarakat Karanganyar,” pungkas Juliyatmono.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara anggota IPHI, pihak BRIN, dan Juliyatmono mengenai teknis pelayanan kesehatan dan kebijakan haji terbaru tahun 2026. ( bre )
