Fokus Jateng -BOYOLALI — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali kini tengah memperluas dengan membuat blok sampah sekitar 1.000 meter persegi yang mampu menampung sampah dalam kurun waktu hingga enam bulan kedepan.
Kepala DLH Kabupaten Boyolali Suraji mengatakan, penambahan blok sampah baru tersebut sedang dalam proses pembangunan yang berada di wilayah Desa Jelok, Kecamatan Cepogo.
“Luasan blok sampah itu 1.000 meter persegi,” katanya. Jumat 28 November 2025.
Di lokasi tersebut juga dibangun shelter-shelter bagi pemulung untuk memilah sampah. Dana yang dipergunakan untuk pembangunan blok sampah ini adalah APBD 2025 sebesar Rp 1, 67 miliar. Suraji mengatakan, biaya pengolahan sampah tidak murah yakni Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per ton.l
“Jadi bisa dibayangkan berapa mahalnya kita mengelola sampah, makanya kita harus mengurangi sampah, sehingga yang TPA nya residu.” ujarnya.
Menurut Suraji, sedianya DLH Boyolali menargetkan pembangunan blok sampah yang luas. Sehingga, nantinya blok sampah akan bekerja efektif. Hanya saja, mencari hamparan tanah tidak mudah karena biasanya tanah yang diincar merupakan hak milik warga.
“Dengan begitu nanti 2030 kami masih ada penataan atau pengadaan blok sampah. Namun, setelahnya blok sampah ya di area itu saja. Paling kami landfill mining, jadi blok sampah lama yang tidak aktif bakal kami fungsikan kembali setelah 2030,” imbuhnya.
Diketahui, luas TPA Winong saat ini adalah 6,47 hektar terdiri dari blok sampah tidak aktif, blok sampah aktif yang kini dipergunakan untuk bangunan perkantoran sarana prasarana, dan cadangan. Ia mengatakan, rencananya akan ada penambahan luasan untuk menampung sampah-sampah baru.
Sebelumnya, Suraji menjelaskan, sistem pengolahan sampah yang selama ini diterapkan adalah kontrol landfill, yaitu metode pengelolaan sampah dengan cara menimbun sampah, memadatkannya, dan melapisinya dengan tanah secara berkala.
Kendati demikian, sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Boyolali per harinya bisa mencapai 120 ton, sementara kemampuan TPA untuk mengolah sampah hanya 100 ton per hari. Hal ini disebabkan oleh banyaknya sampah rumah tangga yang harusnya masih bisa bernilai ekonomi namun sudah dibuang ke TPA, dan selain itu, musim hujan juga menambah tonase sampah tersebut.
“Kami berusaha memastikan sampah yang diolah di TPA sudah dikelola dengan baik. Termasuk memperkuat edukasi untuk memilah sampah dari dini. Misalnya sampah plastik bisa dijadikan bahan bernilai ekonomis dan sampah organik bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk atau pakan hewan.” ( yull/**)
