Fokus Jateng -Surakarta, – Garis Juang Indonesia melalui forum diskusi publik “Suara Pergerakan: Aspirasi Generasi Muda Indonesia dalam Pusaran Politik Global” pada Kamis 28 Agustus 2025 malam di Solo, menegaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini masih berada dalam cengkeraman kuat pengaruh Barat, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya.
Dalam rilis yang diterima fokus Jateng pada Jumat 29 Agustus 2025, menyebut bahwa pengaruh Barat hadir dalam berbagai bentuk: utang luar negeri yang menjerat, ketergantungan pada investasi dan teknologi, hingga hegemoni nilai-nilai liberal yang seringkali bertentangan dengan jati diri bangsa.
“Intervensi Barat juga terlihat dalam isu hak asasi manusia, kebijakan lingkungan, serta geopolitik kawasan yang justru membatasi kedaulatan Indonesia untuk menentukan arah pembangunan sendiri,” kata Moehajir Abdul G salah satu pegiat forum diskusi tersebut.
Dijelaskan, salah satu contoh nyata adalah isu pajak impor Amerika Serikat terhadap produk Indonesia. Alih-alih memberi ruang adil dalam perdagangan, kebijakan proteksionis Barat justru menjadikan Indonesia sebatas komoditas ekonomi, bukan mitra sejajar.
“Produk Indonesia sering dipinggirkan atau dikenai tarif tinggi, sementara pasar dalam negeri dibanjiri barang impor yang merusak industri lokal.”
Aktivis 65, Usman Amirudin menambahkan, penguasaan tambang emas Freeport di Papua oleh perusahaan Amerika memperlihatkan bagaimana sumber daya strategis bangsa masih dikendalikan asing. Ironisnya, Indonesia juga terus diarahkan untuk mengeluarkan anggaran besar demi pembelian pesawat militer dan komersial dari Amerika Serikat. Padahal, dana triliunan rupiah itu justru bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat: membangun sekolah, rumah sakit, layanan kesehatan gratis, subsidi pangan, hingga infrastruktur dasar yang lebih merata.
Kendati demikian, forum ini tidak hanya melihat persoalan dari sisi negatif. Menurut Usman Garis Juang Indonesia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara kuat dan mandiri, jika berani keluar dari bayang-bayang Barat. Salah satu jalannya adalah dengan memperkuat solidaritas dan kerjasama dengan negara-negara Asia, seperti Tiongkok, India, dan negara ASEAN lainnya.
Kerjasama antarnegara Asia akan membuka jalan bagi pertukaran teknologi, perdagangan yang lebih adil, dan pembangunan ekonomi yang saling menguntungkan. Dengan mengutamakan mitra regional, Indonesia bisa mengurangi dominasi asing sekaligus memperkuat posisinya sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara.
Oleh karena itu, Garis Juang Indonesia menyerukan:
1. Indonesia harus berdikari – mengandalkan kekuatan ekonomi nasional, teknologi sendiri, dan kemandirian politik luar negeri.
2. Mengurangi ketergantungan pada utang dan investasi asing dari Barat, yang seringkali menjadi alat kontrol politik global.
3. Mengutamakan alokasi anggaran untuk kesejahteraan rakyat, bukan pengeluaran besar yang hanya memperkaya industri asing.
4. Memperkuat kerjasama strategis dengan negara-negara Asia untuk menciptakan kemandirian regional yang tangguh.
5. Meneguhkan kembali prinsip politik luar negeri bebas-aktif yang sejati, bukan sekadar jargon, tetapi sikap tegas dalam menjaga kedaulatan bangsa.
“Sudah saatnya Indonesia benar-benar merdeka, bukan hanya secara simbolis, tetapi merdeka dalam menentukan nasibnya sendiri. Dana triliunan yang digunakan untuk membeli pesawat asing seharusnya kembali ke rakyat. Dan lebih dari itu, Indonesia harus memperkuat solidaritas Asia agar tidak lagi terjebak dalam cengkeraman Barat,” tegas salah satu perwakilan Garis Juang Indonesia.
Melalui Suara Pergerakan, forum ini berharap dapat menumbuhkan kesadaran politik kritis di kalangan generasi muda agar Indonesia tidak lagi menjadi satelit kepentingan asing, melainkan berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, kuat, dan makmur. ( ist/**)