Hingga Maret, Produksi Jagung Jawa Tengah Tembus 1,54 Juta Ton

Panen Raya Jagung, di Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Sabtu akhir pekan lalu (16/2). (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Hasil pertanian jagung di Jawa Tengah (Jateng) sangat melimpah. Hingga akhir Maret nanti diperkirakan produksi jagung se Jateng bisa tembus 1,54 juta ton jagung. Petani pun berharap jangan ada impor, supaya harga tak anjlok.

Hal itu disampaikan kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Suryo Benandro disela-sela kegiatan Panen Raya Jagung, di Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Sabtu akhir pekan lalu (16/2).

Dikatakan Suryo bahwa di Jateng saat ini mendekati puncak panen raya. Sejak awal Februari lalu, hingga akhir Maret nanti sentral-sentral jagung di Jateng terjadi panen raya jagung. “ Mulai dari Grobogan, Demak, Pati sampai Blora, dan Sragen ada panen jagung,” ujar Suryo.

Dia menyebut Produksi Jagung di Jateng pada semester pertama tahun ini meningkat dari pada semester awal tahun lalu. Bahkan separoh dari target produksi jagung tahun 2019 ini sudah tercapai pada semester pertama ini.

Dimana untuk Jateng, ditargetkan bisa memproduksi jagung sebanyak 3,6 juta ton pada tahun ini. “ Jadi ini, produktifitas jagung ada kenaikan. Perhektarnya bisa mencapai 5-7 ton setiap panen. Itu menunjukkan adopsi teknologi pertanian cukup baik,” kata Suryo.

Untuk itu, terkait rencana impor jagung yang akan dilakukan pemerintah, Suryo menyatakan untuk sementara ini banyak kepala daerah yang menolak impor. Karena memang, kebutuhan jagung sudah terpenuhi tanpa adanya impor.

“ seperti statmennya bupati Grobogan dan yang lain, diupayakan jangan sampai impor,” tarang Suryo.

Assisten Deputi Daya Saing Koperasi dan UKM, Kemenko Perekonomian, Iwan Faidi, menyatakan saat Jagung di Indonesia saat ini surplus. Itu tak lepas dari produksi Jagung di Jateng yang masuk penghasil terbesar di Indonesia.

“ Untuk impor jagung bukan kewenangan saya untuk menjawab. Tapi saya rasa, kita sudah surplus,” imbuh Iwan.

Sementara itu, Sholihin, 54, salah seorang petani setempat berharap tak ada impor jagung ke Indonesia. Hal itu untuk menjaga kestabilan harga jagung pasca panen ini.

“ Kalau saat ini, harga jagung mencapai 4.200 perkilogram. Ini kan kami baru masuk masa panen jadi harapannya nanti masih sama,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali, Bambang Jiyanto menyatakan bahwa produksi jagung di Boyolali sangat tinggi. Untuk itu Pemkab Boyolali tahun ini akan mengalokasikan bantuan bibit kepada petani seluas 450 hektar.

“ kami terus menggalakkan tanam jagung di Boyolali. lahan yang tak bisa ditanami padi bisa ditanami jagung,” pungkas Bambang