Fokus Jateng-BOYOLALI,- Perumda Air Minum Tirta Ampera Boyolali buka suara soal beredarnya video air keruh dan berbusa tebal berwarna putih keabu-abuan di bak air kamar mandi milik pelanggan.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Ampera Boyolali, Iwan Marwanto, membenarkan, sekaligus menyampaikan klarifikasi serta permintaan maaf secara terbuka.
“Jadi penyebabnya ada keteledoran dari petugas kami. Untuk itu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat,” ujar Iwan dikonfirmasi awak media, Selasa 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa permasalahan bermula pada Senin malam, ketika sumber air baku yang berasal dari Kedung Banteng dan Embung Melikan mengalami perubahan warna menjadi hijau akibat lumut.
Melihat kondisi air baku yang berubah hijau, petugas di lapangan mengambil langkah menormalisasi warna air menggunakan gas klor.
“Awalnya tadi malam air dari Kedung Banteng dan Embung Meliakan berwarna hijau. Di fasilitas pengolahan itu tidak ada kaporit, melainkan gas klor. Gas klor tersebut oleh petugas di lapangan dibesarkan takarannya dengan tujuan menormalkan air yang berubah warna menjadi hijau,” jelasnya.
Hanya saja, terjadi kesalahan teknis saat pengaturan dosis. Takaran gas klor yang dialirkan justru terlalu besar (overdosis). Sehingga terjadi reaksi dan kontaminasi antara lumut (air hijau) dengan gas klor konsentrasi tinggi. Keduanya bercampur hingga air berubah keruh kecokelatan dan berbusa tebal menyerupai limbah.
“Akan tetapi penyetelannya kegedean (terlalu besar). Makanya kemudian terjadi kontaminasi antara lumut dengan gas klor sehingga bercampur menjadi satu,” imbuhnya.
Iwan memastikan bahwa setelah beredar video tersebut, pihaknya langsung melakukan tindakan dan perbaikan teknis di Instalasi Pengolahan Air (IPA), dan selesai pada pukul 10.00 WIB.
“Per jam 10.00 WIB tadi, seluruh sistem pengolahan sebenarnya sudah kami perbaiki. Air di reservoir penampungan IPA juga sudah kembali jernih dan normal,” katanya.
Kendati demikian, air yang terlanjur tercampur pada Senin malam sudah memasuki jaringan pipa distribusi menuju pemukiman. Hal inilah yang menyebabkan sebagian warga masih menerima air keruh saat membuka keran di rumah.
“Untuk air di dalam pipa distribusi besar sedang kami washout. Namun untuk pipa sambungan rumah (SR), kami mengimbau pelanggan agar membuka kerannya terlebih dahulu dan membuang air yang masih belum jernih sampai kondisinya benar-benar jernih kembali,” katanya.
Iwan menegaskan agar masyarakat tidak mengonsumsi air terkontaminasi yang keluar sejak Senin malam hingga Selasa pagi.
“Air yang keluar sejak kemarin malam hingga tadi pagi tegas tidak boleh dikonsumsi, karena ada kesalahan dosis pengaturan bahan kimia,” katanya. ( yull/*”)
