Fokus Jateng – SURAKARTA– Hamparan karang Pantai Krakal yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Gunungkidul ternyata menyimpan potensi sumber daya hayati yang besar. Salah satunya adalah rumput laut hijau Ulva lactuca, yang tumbuh melimpah di kawasan pesisir namun belum banyak dimanfaatkan secara optimal sebagai produk bernilai ekonomi tinggi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar kegiatan sosialisasi dan pengenalan potensi Ulva lactuca kepada ibu-ibu anggota Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Sedyo Mulyo di Pantai Krakal, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan ini merupakan langkah awal dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM-UNS) Tahun 2026 yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Ekonomi Pesisir dengan Penguatan Kapasitas Kelompok Sedyo Mulyo Melalui Wirausaha Pangan Fungsional Berbasis Rumput Laut Ulva lactuca.”
Progarm Kemitraan Maysrakat ini didukung sepenuhnya oleh LPPM UNS https://lppm.uns.ac.id melalui kegitan hibah pengabdian Masyarakat UNS tahun 2026 belum lama ini. Program tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri atas Prof. Dr. Muzzazinah, M.Si. sebagai ketua tim, dengan anggota Nurmiyati, S.Pd., M.Si. dan Alanindra Saputra, S.Pd, M.Sc serta melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS.
*Potensi Terabaikan*
Bagi sebagian masyarakat pesisir, keberadaan Ulva lactuca selama ini lebih sering dianggap sebagai bagian dari vegetasi pantai yang tumbuh secara alami di zona pasang surut. Padahal, rumput laut hijau ini memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi, seperti serat pangan, protein, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan fungsional.
Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Muzzazinah, M.Si., menjelaskan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal merupakan salah satu strategi penting dalam membangun ekonomi masyarakat pesisir yang berkelanjutan. “Masyarakat pesisir memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Namun, nilai ekonomi yang diperoleh sering kali masih rendah karena sumber daya tersebut belum diolah secara optimal. Melalui program ini, kami ingin memperkenalkan bahwa Ulva lactuca memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan fungsional yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi kesehatan,” jelasnya.
*Bernilai Tambah*
Pada kesempatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai alternatif produk yang dapat dikembangkan dari Ulva lactuca, mulai dari tepung rumput laut, lauk tabur, furikake, mie rumput laut, snack bar, hingga berbagai produk pangan inovatif lainnya. Menurut Nurmiyati, S.Pd., M.Si., pengembangan produk berbasis Ulva lactuca tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mendukung diversifikasi pangan lokal yang lebih sehat.
“Saat ini tren pangan fungsional terus berkembang. Masyarakat semakin sadar pentingnya makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan. Rumput laut Ulva lactuca memiliki peluang besar untuk masuk ke segmen tersebut apabila diolah dengan baik dan didukung strategi pemasaran yang tepat,” ungkapnya. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui bahwa rumput laut yang selama ini mudah ditemukan di sekitar Pantai Krakal ternyata memiliki kandungan nutrisi dan peluang usaha yang menjanjikan.
Salah satu anggota Poklahsar Sedyo Mulyo Ibu Saijah mengaku tertarik untuk mempelajari lebih lanjut teknik pengolahan rumput laut menjadi produk pangan yang dapat dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat umum. “Selama ini kami belum mengetahui bahwa rumput laut hijau ini bisa diolah menjadi banyak produk. Kami berharap ada pelatihan lanjutan sehingga masyarakat bisa benar-benar memproduksi dan menjualnya,” ujarnya.
*Penguatan Kapasitas Perempuan Pesisir*
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas perempuan pesisir dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Peran perempuan dinilai sangat strategis karena banyak terlibat dalam kegiatan pengolahan hasil perikanan dan pemasaran produk rumah tangga. Melalui pendampingan yang akan berlangsung selama program berjalan, anggota kelompok akan memperoleh pelatihan mengenai teknik pengolahan, pengemasan produk, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha secara sederhana.
Anggota tim pengabdian, Alanindra Saputra, S.Pd., M.Sc., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dari peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha secara mandiri. “Kami berharap setelah program ini selesai, kelompok mitra memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan kemampuan usaha yang lebih kuat sehingga dapat terus berkembang secara berkelanjutan,” katanya.
Program pengabdian ini sejalan dengan komitmen Universitas Sebelas Maret dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 4 (Quality Education/Pendidikan Berkualitas) melalui transfer pengetahuan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan model pemberdayaan ekonomi pesisir yang berkelanjutan.
Melalui Program Kemitraan Masyarakat ini, Universitas Sebelas Maret terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Pemanfaatan Ulva lactuca sebagai bahan baku pangan fungsional diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat identitas Pantai Krakal sebagai kawasan yang kaya akan sumber daya hayati dan potensi ekonomi berbasis kelautan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat, pengembangan usaha berbasis rumput laut diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi masyarakat pesisir yang berkelanjutan. (ist/”*).
