Mahasiswa KKN-PPM 91 Unisri Kenalkan Budidaya Sayuran Menggunakan Sistem Hidroponik Wick

Oleh : Natarani Khoirul Resa

Mahasiswa Program Studi: Agroteknologi

Unisri Surakarta

Fokus Jateng – SRAGEN — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI) Kelompok 91 melaksanakan program kerja individu berupa “Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Budidaya Sayuran Menggunakan Sistem Hidroponik Wick”. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Natarani Khoirul Resa (23300038), Mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Universitas Slamet Riyadi Surakarta.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya optimalisasi lahan pekarangan yang seringkali belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Lahan pekarangan yang sempit maupun terbatas sebenarnya dapat diubah menjadi sumber pangan keluarga apabila dikelola dengan metode yang tepat. Oleh karena itu, sistem hidroponik wick dipilih sebagai salah satu solusi sederhana, hemat biaya, dan mudah diterapkan oleh masyarakat dalam budidaya sayuran di rumah.

Kegiatan menyasar Ibu-Ibu PKK di Desa Jono. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk mengenal konsep dasar hidroponik wick, mulai dari prinsip kerja sistem sumbu (wick system), pemilihan media tanam, hingga jenis-jenis sayuran yang cocok dibudidayakan dengan metode ini seperti kangkung, sawi, dan selada.

Dalam penyampaian kegiatan, Natarani menjelaskan bahwa sistem hidroponik wick merupakan salah satu metode budidaya tanaman tanpa tanah yang memanfaatkan prinsip kapilaritas melalui sumbu untuk menyalurkan larutan nutrisi dari bak penampung menuju akar tanaman. Metode ini dinilai tepat untuk diterapkan di lahan pekarangan yang terbatas karena tidak membutuhkan pompa listrik maupun perawatan yang rumit.

Beberapa tahapan yang dilakukan dalam kegiatan ini meliputi sosialisasi mengenai konsep dan manfaat hidroponik wick, penjelasan alat dan bahan yang dibutuhkan, hingga praktik langsung merakit instalasi sederhana menggunakan bak air dan sumbu kain flanel. Ibu PKK juga diajarkan cara meracik larutan nutrisi, menyemai benih, serta menjaga perawatan tanaman agar tumbuh optimal.

Selain memberikan keterampilan bercocok tanam, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan yang ada. Ibu PKK diajak untuk memahami bahwa lahan sempit sekalipun dapat menghasilkan sayuran segar secara berkelanjutan apabila dikelola dengan metode budidaya yang efisien dan ramah lingkungan.

Sebagai mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Natarani juga memberikan pemahaman bahwa penerapan teknologi budidaya sederhana seperti hidroponik wick dapat menjadi solusi efektif dalam mendukung ketahanan pangan tingkat rumah tangga. Pendekatan praktik langsung dinilai mampu membantu masyarakat memahami materi dengan lebih mudah sekaligus mendorong minat mereka untuk terus mengembangkan budidaya sayuran secara mandiri.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dan penuh antusiasme. Ibu-ibu terlihat aktif bertanya dan turut serta dalam proses perakitan instalasi hidroponik sederhana. Sebagian besar peserta menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan budidaya secara mandiri di rumah masing-masing setelah mengikuti kegiatan ini.

Antusiasme ibu-ibu terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari mendengarkan penjelasan, mempraktikkan perakitan alat, hingga proses penyemaian benih. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan bercocok tanam yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Kegiatan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik wick ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan, mendukung ketahanan pangan keluarga, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bercocok tanam secara mandiri di tengah keterbatasan lahan. Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu menjadi bekal bagi masyarakat untuk lebih produktif dalam memanfaatkan pekarangan rumah.

Program kerja individu ini juga menjadi salah satu bentuk implementasi ilmu yang diperoleh Natarani selama menempuh pendidikan di Program Studi Agroteknologi. Melalui kegiatan KKN, mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi juga dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan.

Dengan terlaksananya kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNISRI Kelompok 91 berharap edukasi budidaya sayuran melalui sistem hidroponik wick dapat memberikan kesan dan pemahaman yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Keterampilan yang telah diperoleh diharapkan dapat terus dikembangkan, sekaligus menumbuhkan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa KKN UNISRI Kelompok 91 dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pertanian berbasis teknologi tepat guna. Dengan adanya pengenalan sistem hidroponik wick sebagai solusi pemanfaatan lahan pekarangan, diharapkan dapat tercipta masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan peduli terhadap pemenuhan kebutuhan pangan keluarga secara berkelanjutan. ( ist/**)