Protes Harga Pakan Mahal, Peternak Ayam Petelur Boyolali Gelar Aksi Bagikan Ayam dan Telur Gratis

Fokus Jateng -BOYOLALI – Protes terhadap tingginya harga pakan ayam yang dinilai semakin membebani peternak. Para peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Boyolali Bersatu menggelar aksi damai di Monumen Jagung, kompleks Perkantoran Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali, Senin 10 Agustus 2026.

Dalam aksi itu, para peternak membawa ratusan ekor ayam, puluhan kilogram telur, serta sejumlah spanduk berisi aspirasi. Mereka menyoroti tingginya harga jagung sebagai salah satu bahan baku pakan. Mereka juga mempersoalkan ketergantungan terhadap jagung impor serta meminta pemerintah menghentikan monopoli impor bahan baku pakan, termasuk bungkil kacang kedelai (BKK). Sejumlah peternak bahkan terpaksa menggadaikan hingga menjual sertifikat atau surat berharga untuk mempertahankan usaha peternakan mereka.

“Sudah sekitar empat bulan ini peternak makan sertifikat, kami minta ke pemerintah untuk menurunkan harga pakan dan mengendalikan harga jagung ke Rp5.500 per kilogram. Harga pakan mendekati Rp8.000 per kilogram, buka kembali impor jagung dan cukupi kebutuhan jagung peternak, sebab monopoli impor jagung menyiksa peternak,” kata salah seorang peternak ayam petelur, Kahono ditemui disela aksi.

Ia menyebut sebagian peternak sudah tutup karena tidak mampu membeli makan. Kahono tidak ingin hal tersebut terus berlanjut. Ketika hal ini tidak diintervensi dan harga pakan terus tinggi, ia memprediksi pada Desember nanti sudah tidak ada lagi kandang di Boyolali.

Senada, Ketua Paguyuban Peternak Boyolali Bersatu, Krishandika Immanuel Raharjo, mengatakan peternak khawatir harga jagung kembali melonjak seperti yang terjadi pada 2023. Saat itu, harga jagung disebut sempat mencapai Rp10.000 per kilogram.

Menurut Krishandika, kondisi peternak saat ini semakin sulit karena harga bahan baku pakan naik, sementara harga telur di tingkat peternak masih rendah. Disusul kenaikan harga bungkil kacang kedelai atau BKK yang disebut meningkat hampir Rp2.000 per kilogram sejak awal tahun. Peternak juga mempersoalkan kebijakan impor tunggal yang dinilai turut memengaruhi harga bahan baku pakan.

“Kalau kondisi pakan terus naik, kami khawatir harga jagung kembali menyentuh Rp10.000 seperti 2023. Pemerintah menghendaki harga telur semurah mungkin, tetapi bahan bakunya sendiri mahal. Banyak peternak akhirnya diminta menjual telur dalam kondisi rugi,” ujarnya.

Menurut Kris harga acuan pembelian (HAP) jagung dari pemerintah Rp5.500 per kilogram. Akan tetapi sekarang harga jagung di tingkat peternak Rp7.200 per kilogram.

Peternak juga mengungkapkan adanya kesenjangan antara harga acuan telur dengan harga yang terjadi di lapangan. HAP telur yang ditetapkan pemerintah berada di angka Rp24.000 per kilogram, tetapi peternak menyebut masih ada telur yang dijual hanya Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram.

Peternak ketika akan menjual ayam pun murah. Untuk ayam afkir sekitar Rp12.000-Rp15.000 per kilogram. “Jadi dijual rugi, dipertahankan rugi kasih makan, jual telurnya juga rugi. Jadi di semua lini kami terjepit. Ini sudah sejak setengah tahun ini kondisinya seperti ini, apalagi kebijakan satu pintu melalui Berdikari mencekik peternak,” ujarnya.

Tekanan biaya produksi membuat sebagian peternak ayam petelur di Boyolali disebut memilih berhenti berusaha. Sebagian lainnya menggunakan pakan dengan kualitas lebih rendah yang berisiko menurunkan produktivitas ayam.

Usai berorasi, para peternak membagikan ratusan ekor ayam kepada pengguna jalan. Mereka juga membagikan puluhan kilogram telur kepada masyarakat yang melintas di sekitar kompleks perkantoran Pemerintahan Kabupaten Boyolali.

Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Ahmad Gozali, mengatakan pihaknya akan meneruskan aspirasi para peternak kepada pemerintah di tingkat atas.

“Aspirasi ini akan kami sampaikan kepada pimpinan, mulai dari Bupati, Gubernur, hingga kementerian terkait,” kata Gozali. ( yull,/**)