FokusJateng.com – Fenomena El Nino 2026 berpotensi meningkatkan risiko karhutla akibat musim kering yang panjang dan lebih panas dari kondisi normal. Untuk mengatasinya, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) menerapkan sejumlah langkah mitigasi.
“Ada beberapa hal yang sudah kita upayakan. Yang pertama adalah melakukan koordinasi dan sosialisasi terhadap kondisi kawasan dengan masyarakat yang ada di sekitar kawasan, APH, juga dengan polres setempat,” ungkap Kepala BTNGMb Anggit Haryoso. Selasa 9Juni 2026 di Boyolali.
Dijelaskan, upaya selanjutnya yakni menyasar pendaki dan petani. BTNGMb selalu mengingatkan pendaki melalui briefing_sebelum pendakian, agar tidak membuat api unggun dan tidak meninggalkan api besar.
“Sosialisasi serupa juga disampaikan ke petani agar tidak membakar lahan. Sehingga diharapkan petani maupun pendaki mampu menjaga atau mencegah terjadinya kebakaran hutan,” katanya.
Anggit menyebut pengalaman kebakaran hutan 2023 yang melanda cukup luas menjadi pelajaran. Tahun ini BTNGMb mengaku lebih siap menyambut El Nino 2026 dengan kolaborasi semua pihak.
“Tentu ini dengan kolaborasi semua pihak, dari mulai masyarakat sekitar kawasan, pemerintah daerah, dan Taman Nasional,” katanya.
Disebutkan, kawasan TN Gunung Merbabu yang dikelola BTNGMb memiliki luas 5.820 hektar. Wilayahnya meliputi Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Magelang.
Adapun untuk titik rawan, BTNGMb memprioritaskan Boyolali dan Magelang. Penyebabnya, dua wilayah ini sudah hampir 2 tahun tidak terbakar sehingga potensi bahan bakar di hutan cukup tinggi.
“Terkait dengan prioritas kami, karena tahun 2023 terjadi kebakaran di wilayah Kabupaten Semarang, dan sudah hampir 2 tahun ini tidak terjadi di wilayah Magelang dan Boyolali, terutama Boyolali, otomatis potensi bahan bakarnya cukup tinggi, dan itu menjadi prioritas kami untuk memitigasi,” tambahnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa upaya pencegahan juga perlu diperkuat dengan dilakukan patroli rutin, pemantauan terkait kondisi lahan dan ekosistem, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan agar siap siaga dalam menghadapi risiko kebakaran hutan. Selanjutnya membuat sekat bakar. Agar ketika terjadi kebakaran, tidak merembet ke area lain.
“Jadi kami berharap masyarakat, pendaki, dan petani ikut menjaga agar kebakaran hutan tidak terulang saat kemarau panjang nanti,” pungkasnya. ( yull/**)
